Kasus Pelecehan Turis Asal Taiwan di Lovina Berakhir Damai

Share

Aksi pelecehan seksual terhadap wisatawan asing yang dilakukan warga lokal di kawasan wisata Lovina, Desa Kalibukbuk, Buleleng, Bali, diselesaikan di tingkat desa tanpa proses hukum kepolisian. Pihak Pemerintah Desa Kalibukbuk memilih jalur penyelesaian kekeluargaan karena korban telah meninggalkan lokasi kejadian.

Peristiwa ini menjadi sorotan setelah video rekaman kejadian yang diunggah akun Instagram @aurosa_a viral di media sosial. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detik Travel, korban yang sempat dikira WN China tersebut ternyata merupakan warga negara Taiwan.

Insiden bermula ketika korban sedang merekam video di area wisata Pantai Lovina. Pelaku bernama Wayan Sedana alias Nane kemudian mendatangi korban dengan berpura-pura bersalaman, namun menjabat tangan korban terlalu lama sambil mengarahkannya ke area sensitif.

"Kenapa kamu berjabat tangan selama itu? Aku nggak tahu sebenarnya kamu mau melakukan apa. Sampai akhirnya aku sadar, ternyata sudah terlambat," kata Aurosa.

Pemerintah Desa Kalibukbuk menyampaikan permohonan maaf secara resmi melalui pesan pribadi di akun sosial media korban. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral atas ketidaknyamanan yang dialami wisatawan selama berkunjung di wilayah mereka.

"Kami sudah kirim permohonan maaf dari pihak desa ke akun wisatawannya atas ketidaknyamanan yang diterima. Kami juga sudah menjelaskan bahwa kita sudah mengambil tindakan cepat terkait informasi ini," kata Perbekel Desa Kalibukbuk I Ketut Suka, Selasa (11/8).

Pihak desa tidak meneruskan kasus ini ke ranah hukum lantaran korban sudah keluar dari penginapan saat penanganan dimulai. Pihak keluarga pelaku juga telah dipanggil ke kantor desa untuk membuat surat pernyataan pembinaan.

"Kami belum sempat ketemu tamunya karena langsung check out. Setelah kejadian itu langsung posting Instagram. Kami kaget lihat itu, akhirnya kami cari tahu," jelas Suka.

Suka menambahkan bahwa pengawasan ketat akan diberlakukan kepada pelaku agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan merusak citra pariwisata Lovina.

"Kami sementara tidak buat laporan polisi karena sudah ada niat etika baik dari keluarga yang ikut mengawasi gerak-gerik mereka agar tidak mengulangi hal-hal seperti itu," kata Suka.

"Kami tetap bertanggung jawab. Walaupun dia sudah tidak di sini, tetap menjadi tanggung jawab kami dengan pariwisata kita. Jangan sampai terganggu karena ini akan memengaruhi kunjungan wisata kita," imbuh dia.

"Kemarin diselesaikan, keluarganya datang. Mereka buat surat pernyataan, kita panggil ke kantor. Kami sudah bina. Bahkan kami ancam kalau lagi-lagi berulah seperti ini, kami akan ambil tindakan tegas," ungkapnya.

Meski tidak menerima laporan resmi, Polres Buleleng tetap mengambil tindakan dengan berkoordinasi bersama Atase Kepolisian Taiwan di Indonesia. Langkah ini diambil guna mengumpulkan keterangan langsung dari korban sekaligus memastikan jaminan keamanan bagi wisatawan asing.

"Kami telah berkoordinasi dengan Atase Kepolisian Taiwan di Indonesia agar dapat berkomunikasi secara langsung dengan korban untuk melakukan investigasi terkait kejadian ini," kata Kapolres Buleleng, AKBP Ruzi Gusman, Rabu (12/8/2026).

AKBP Ruzi Gusman mengutuk keras ulah oknum warga tersebut karena dapat merusak reputasi Bali yang dikenal ramah di mata dunia. Kepolisian mengimbau seluruh masyarakat di kawasan pariwisata untuk saling menjaga kenyamanan pengunjung.

"Sangat disayangkan sekali, ini merupakan perbuatan tidak bertanggung jawab dan berpotensi mencederai citra pariwisata dan keramahtamahan Bali, terutama Pantai Lovina," tegas Ruzi.

"Kepolisian menjamin kenyamanan dan keamanan kepada para wisatawan yang sedang berwisata ke Pulau Bali," ujar Ruzi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author