IHSG Anjlok 3,46 Persen Saat Bursa Saham Global Mulai Stabil

Share

Pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,46 persen ke level 6.370 pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026). Penurunan tajam ini terjadi di saat mayoritas bursa saham global dan kawasan Asia justru bergerak stabil dan menguat.

Dilansir dari CNN Indonesia, indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,48 persen, Shanghai Composite China menguat 0,92 persen, dan Straits Times Singapura tumbuh 1,21 persen. Sementara itu, bursa Eropa seperti DAX Jerman menguat 1,37 persen akibat meredanya sentimen geopolitik setelah Amerika Serikat menunda serangan ke Iran.

Kondisi domestik kini menjadi faktor dominan yang menekan pasar modal Indonesia, terutama karena pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.700 per dolar AS. Sektor industri dasar menjadi yang paling terdampak dengan penurunan hingga 7,30 persen akibat aksi jual agresif pada saham-saham berkapitalisasi besar.

"Ini menunjukkan tekanan terhadap pasar domestik saat ini bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan mulai rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek," kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor.

Hendra menilai pasar saat ini mengkhawatirkan stabilitas rupiah serta arah kebijakan fiskal pemerintah dalam menjaga kepercayaan investasi.

"Pelemahan IHSG kali ini juga tergolong cukup serius karena terjadi hampir merata di berbagai sektor, terutama basic industry yang anjlok hingga 7,30 persen," ujarnya.

Tekanan ini diperparah oleh keluarnya dana asing secara masif dari pasar saham domestik yang memperbesar risiko penurunan indeks.

"Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar," jelasnya.

Investor kini menantikan pidato Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (20/5/2026) sebagai sinyal kepastian kebijakan ekonomi nasional ke depan.

"Pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," tegasnya.

Di sisi lain, reformasi regulasi yang diperkenalkan otoritas pasar modal sejak awal tahun juga turut memicu sentimen kehati-hatian investor dalam jangka pendek.

"OJK dalam benahi pasar modal memang justru membuat beberapa emiten dengan kapitalisasi jumbo yang dinilai belum memenuhi kriteria kepemilikan publik yang ideal menurut standar global, itu memang justru efeknya membuat para pelaku pasar lebih cenderung prudent (hati-hati)," kata Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Langkah penataan tersebut ditambah dengan keputusan MSCI yang mengeluarkan beberapa saham blue chip Indonesia memicu arus keluar dana asing sekitar Rp50 triliun secara year to date.

"Hal ini memicu kecemasan investor institusi asing yang memang sangat sensitif terhadap good corporate governance, tapi ini reformasi yang dijalankan oleh OJK dan SRO ini secara fundamental bagus in the long run. Kalau secara jangka pendek, wajar karena ada penyesuaian," imbuhnya.

Nafan menambahkan bahwa penurunan indeks kali ini sangat dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio pasca-pengumuman indeks MSCI.

"Jadi memang penurunan IHSG secara signifikan memang sangat didominasi oleh dinamika pengumuman MSCI," katanya.

Berdasarkan laporan Suara Surabaya, Phintraco Sekuritas sebelumnya memproyeksikan IHSG bergerak pada rentang 6.400 hingga 6.700.

"Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400- 6.700," ujar Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas.

Pelaku pasar juga bersikap wait and see terhadap hasil pertemuan Bank Indonesia terkait penyesuaian suku bunga acuan atau BI-Rate untuk meredam depresiasi rupiah. Sebagai konteks makro, Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat mulai Juli 2026 setelah melewati periode tingginya permintaan dolar AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author