WHO Pantau Varian COVID-19 PQ.16.1.1 Usai Melonjak di Pasifik Barat
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan subgaris keturunan Omicron, PQ.16.1.1, ke dalam daftar variant under monitoring (VUM). Langkah pemantauan ini diambil menyusul lonjakan signifikan proporsi sekuens varian tersebut di sejumlah wilayah.
Meskipun menunjukkan peningkatan penyebaran, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat tambahan dari varian ini masih rendah di tingkat global, sebagaimana dilansir dari HaiBunda.
Varian PQ.16.1.1 merupakan turunan dari sublineage NB.1.8.1 dengan urutan genetik awal terdeteksi pada 25 Maret 2026. Temuan awal mengindikasikan bahwa pertumbuhan varian ini dipengaruhi kemampuan berikatan dengan reseptor ACE2 serta kemampuan menghindari respons antibodi tertentu.
Hingga 8 Juli 2026, basis data GISAID mencatat 457 sekuens PQ.16.1.1 yang tersebar di delapan negara. Kawasan Pasifik Barat mendominasi temuan tersebut dengan menyumbang 95,8 persen dari total global, di mana Singapura mencatat sekuens terbanyak yaitu 388 laporan.
Secara global, proporsi varian ini melonjak dari 2,7 persen pada minggu epidemiologi ke-18 menjadi 29,6 persen pada minggu ke-25. Kenaikan tajam juga terjadi di Pasifik Barat dari 5,4 persen menjadi 39,3 persen, serta Singapura dari 12,6 persen menjadi 55,1 persen.
Karakteristik Klinis dan Imbauan Vaksinasi
Data pemantauan yang ada menunjukkan belum ada bukti bahwa PQ.16.1.1 memicu tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi dibanding varian lain. Vaksin yang tersedia saat ini diperkirakan tetap memberikan perlindungan terhadap potensi sakit berat.
Para ahli medis mengingatkan bahwa evolusi virus dapat mengarahkan potensi transmisi ke jaringan tubuh lain. Gejala seperti kelelahan mendadak, sakit kepala yang tidak biasa, hingga gangguan pencernaan disarankan untuk segera diperiksakan secara medis.
Pakar penyakit menular dari University of Hong Kong Prof Ivan Hung Fan-ngai mengimbau warga yang belum menerima suntikan pendorong untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan, mengingat masa kedaluwarsa pasokan vaksin yang ada mencapai batasnya pada September mendatang.
"Pemberian vaksinasi yang tepat waktu dinilai menjadi kunci utama untuk mempertahankan kekebalan tubuh sekaligus menekan risiko fatalitas akibat infeksi," ujar Prof Ivan Hung Fan-ngai.