Paus Leo Larang Penggunaan Kecerdasan Buatan di Medan Perang

Share

Pemimpin Gereja Katolik Vatikan Paus Leo mengeluarkan ensiklik pertamanya yang menyerukan pembatasan ketat penggunaan kecerdasan buatan (AI) di medan perang demi mencegah dehumanisasi teknologi.

Langkah penolakan ini diambil setelah militer Amerika Serikat memanfaatkan teknologi AI untuk menetapkan target pengeboman dalam konflik bersenjata melawan Iran. Penegasan tersebut tertuang dalam surat ensiklik pertama Paus Leo sejak dirinya mulai menjabat pada tahun lalu, seperti dilansir dari Detik iNET yang mengutip Financial Times pada Senin (25/5/2026).

"Tidak diperbolehkan mempercayakan keputusan yang mematikan atau yang tidak dapat diubah kepada sistem artifisial," tulis Paus Leo dalam ensiklik yang ditujukan kepada 1,4 biliar umat Katolik di dunia.

Melalui surat tersebut, Paus Leo mendesak adanya kendali manusia yang efektif, sadar diri, dan bertanggung jawab, disertai rantai tanggung jawab yang terverifikasi dalam penentuan target serangan militer.

"Ketika keputusan untuk menyerang diambil secara otomatis atau tidak transparan, risiko pengabaian tanggung jawab meningkat," ujar Paus Leo.

Pemimpin Vatikan ini menambahkan perlunya jaminan penelusuran kembali pada seluruh sistem militer agar akuntabilitas serta kesalahan tidak dilimpahkan begitu saja kepada mesin.

"Semua sistem yang dipakai dalam situasi perang harus menjamin kemungkinan untuk ditelusuri kembali, sehingga akuntabilitas dan kesalahan tidak direduksi ke 'mesin'," sambung Paus Leo.

Penerbitan ensiklik ini menyusul kritik terbuka yang dilayangkan Paus Leo terhadap operasi militer Amerika Serikat di Iran, yang sempat memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump serta perdebatan sengit dengan pihak Washington.

Meskipun Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berargumen bahwa serangan ke Iran memenuhi kriteria teori 'perang yang adil' dalam ajaran Katolik, Vatikan menolak keras klaim tersebut.

"Tanpa mengurangi hak untuk membela diri dalam arti yang paling ketat, penting untuk mengeraskan bahwa teori 'perang yang adil', yang sering dipakai untuk membenarkan segala jenis perang, kini sudah usang," tulis Paus Leo.

Selain masalah militer, regulasi ketat dari pemerintah dunia juga dituntut guna mengatasi dampak negatif algoritma tidak transparan milik korporasi besar pada sektor pendidikan, lapangan kerja, dan hubungan sosial.

"Teknologi itu sendiri bukan solusi terhadap masalah umat manusia, sama seperti teknologi bukanlah sesuatu yang jahat secara inheren. Namun, dalam praktiknya, teknologi tidak pernah netral karena teknologi mengambil karakteristik dari mereka yang merancang, membiayai, meregulasi, dan menggunakannya," ucap Paus Leo.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author