Ketua DPR Puan Maharani Terima Audiensi Parlemen Remaja 2024-2025 di Jakarta
Ketua DPR RI, Puan Maharani, menerima audiensi peserta Parlemen Remaja Terbaik 2024 dan 2025 di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/8/2026), untuk berdiskusi tentang pengalaman program serta isu hoaks yang kerap menghantam DPR. Parlemen Remaja (Parja) DPR RI adalah program edukasi politik bagi siswa SMA/SMK sederajat yang memberi kesempatan merasakan pengalaman sebagai anggota dewan dan simulasi sidang. Sebanyak 12 peserta Parja Terbaik 2024 dan 2025 diagendakan hadir, satu orang berhalangan dan akan menyusul pada Sidang Tahunan MPR RI 14 Agustus. Puan menyatakan terinspirasi oleh prestasi dan teladan para peserta Parja di daerah masing-masing, yang mayoritas merupakan siswa berprestasi seperti duta daerah dan pemenang lomba.
Dalam diskusi, salah satu perwakilan Parja Terbaik 2025, Muhammad Fattan Faydzulhaq, mengungkap pernah mendapat tudingan sebagai buzzer pemerintah setelah mengikuti program Parja tahun lalu.
"Memang tidak mudah menjadi anggota DPR karena sering mendapat tudingan yang kurang baik. DPR juga sering menjadi sasaran hoaks dan serangan di media sosial, termasuk saya," jelas Puan. Dia mencontohkan hoaks terkait RUU Perampasan Aset yang disebut DPR tidak mau mengesahkan, padahal tahapannya masih dalam proses meminta masukan masyarakat.
"RUU Perampasan Aset sedang dibahas, DPR sedang mendengar banyak masukan dari berbagai elemen masyarakat dan mengkaji agar tidak tumpang tindih dengan UU lain," tambah Puan. Fattan juga menyampaikan bahwa proses pembahasan undang-undang di DPR ternyata rumit, yang ia alami saat simulasi legislasi dalam program Parja 2025.
"Penyusunan UU tidak semudah membalik telapak tangan, saya merasakan langsung saat simulasi dan menjelaskan ini ke teman-teman," ujar Fattan yang kini mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Airlangga. Puan menjelaskan alur pembahasan RUU di DPR, mengurai alasan ada UU yang cepat dan ada yang lama pembahasannya. "RUU yang cepat biasanya perubahan kecil seperti satu ayat atau pasal, sedangkan yang mulai dari nol prosesnya lama karena harus sinkronisasi dengan Pemerintah," papar Puan.
Ia menitipkan pesan kepada peserta Parja agar bisa memahami cara kerja parlemen dan mampu menjelaskan pengalaman serta pengetahuan yang didapat, termasuk lewat media sosial agar tidak termakan hoaks.
"Kami berharap program Parja DPR bermanfaat dan peserta dapat melihat bahwa banyak anggota DPR yang bekerja, meskipun tidak terliput media," ungkap Puan. Selain Puan, anggota DPR lain juga berdiskusi dengan Parja Terbaik, seperti Wakil Ketua BKSAP, Irine Yusiana Roba, yang membahas isu keterwakilan perempuan di DPR. "DPR kini punya sejarah karena Ibu Puan sebagai Ketua DPR perempuan pertama, lahir sejumlah UU ramah gender, dan keterwakilan perempuan naik. Ketika perempuan berdaya, negara kuat," kata Irine.
Anggota Komisi XI DPR, Pinka Hapsari, menegaskan DPR selalu terbuka terhadap aspirasi masyarakat dan menceritakan pengalamannya sebagai anggota DPR muda.
"Pengambilan keputusan memang tidak mudah, tapi DPR tetap bekerja menghasilkan yang terbaik bagi rakyat dan sidang komisi bisa disaksikan live masyarakat," jelas Pinka. Anggota Komisi V DPR, Herviano, menyatakan siap memperjuangkan aspirasi Parja, khususnya terkait peningkatan infrastruktur di daerah.
"Aspirasi soal infrastruktur akan diperjuangkan di komisi V yang memang membidangi infrastruktur," ujar Herviano. Di akhir pertemuan, peserta Parja menyampaikan harapan agar DPR tetap menjadi wadah positif dan transparan yang selalu berdiri untuk rakyat Indonesia serta menyampaikan terima kasih atas kesempatan program Parja.
"Semoga DPR terus menjadi wadah suara rakyat dan menjalankan check and balances," ucap Jovanka Anabelle Garcia Silaban, perwakilan Parja 2024. Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Ketua BKSAP DPR Irine Yusiana Roba Putri, Anggota Komisi XI DPR Pinka Hapsari, dan Anggota Komisi V DPR Mochamad Herviano Widyatama, dilansir dari Detikcom.