SINI Alokasikan Rp1,51 Triliun Hasil HMETD Akuisisi KMS Petrosea

Share

PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menyelesaikan pembayaran tunai sebesar Rp1,512 triliun untuk mengakuisisi 99,995 persen saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO) pada 24 Juli 2026.

Transaksi akuisisi ini didanai melalui hasil Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) SINI. Sisa kewajiban senilai Rp218,4 miliar disepakati akan dibayar secara bertahap hingga akhir 2028 dengan pengenaan bunga 7,5 persen per tahun.

Dalam skema penawaran terbatas tersebut, Petrosea menyerap porsi HMETD SINI dengan nilai penyertaan modal sekitar Rp1,19 triliun. Langkah ini memberikan Petrosea kepemilikan saham sekitar 19,88 persen di SINI tanpa bertindak sebagai pemegang saham pengendali.

Skema divestasi saham KMS dan penyertaan modal pada SINI merupakan bagian dari penataan portofolio bisnis Petrosea pada Agustus 2026 sebagaimana dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia.

Manajemen Petrosea menegaskan bahwa pengalihan saham KMS ditujukan untuk memperkuat fokus perusahaan pada lini bisnis utama seperti jasa pertambangan, rekayasa konstruksi, EPCI migas lepas pantai, serta logistik terintegrasi.

"Dengan divestasi tersebut, Petrosea tidak lagi mengendalikan KMS serta tidak memiliki kepemilikan langsung atas perusahaan tersebut," ujar Sekretaris Perusahaan Petrosea, Anto Broto.

Melalui transaksi ini, Petrosea memperoleh diversifikasi bisnis tanpa mengubah fokus usaha utamanya. Langkah investasi ini sekaligus membuka peluang imbal hasil dari operasional SINI yang mengelola arus kas kegiatan pertambangan.

"Investasi ini merupakan keputusan portofolio dan bukan untuk mengendalikan atau mengonsolidasikan laporan keuangan SINI," tambah Anto.

Sumber pendanaan untuk melunasi sisa kewajiban transaksi akuisisi berasal dari kas operasional kegiatan pertambangan SINI. Jadwal pembayaran bunga dirancang setiap 31 Desember untuk tahun 2026 dan 2027, diikuti pelunasan pokok beserta bunga pada akhir 2028.

Apabila terjadi penundaan pemenuhan kewajiban oleh SINI, Petrosea menetapkan ketentuan bahwa beban bunga akan tetap berjalan hingga seluruh utang dinyatakan lunas.

Respons atas transaksi ini juga disampaikan oleh pimpinan SINI terkait potensi operasional aset pertambangan yang dikelola. Estimasi produksi batu bara dari tambang PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) ditargetkan mencapai 42 juta ton, sementara PT Cakrawala Bara Persada (CBP) diproyeksikan memproduksi 8 juta ton.

"Infrastruktur pendukung seperti jalan hauling menuju CBP sudah mencapai progres 83,74% dan diperkirakan selesai Februari 2027, sementara jalan PBC sudah selesai tahap surfacing. Pelabuhan dan stockpile akan menggunakan fasilitas pihak ketiga yang sudah sesuai kapasitas produksi," ujar Direktur Utama Singaraja Putra, Amir Antolis.

Progres pembebasan lahan untuk area operasi tambang saat ini berada di angka 45 persen untuk PBC dan 15 persen untuk CBP di tengah proses negosiasi pemilik lahan. Perseroan mencatat potensi total pendapatan mencapai Rp57,05 triliun sepanjang masa kontrak dari kedua area tambang tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author