Robert Alberts Jelaskan Sengketa Gaji Persib Hingga Sanksi FIFA
Klarifikasi resmi disampaikan oleh mantan pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts, terkait sengketa penunggakan gaji yang memicu sanksi pendaftaran pemain dari FIFA. Pelatih asal Belanda itu memberikan penjelasan terbuka pada Rabu (12/8/2026) demi meluruskan tuduhan publik.
Robert menegaskan langkah klarifikasi ini diambil karena komentar miring publik mulai merugikan keluarganya. Dilansir dari CNN Indonesia dan Kompas.com, ia memilih buka suara setelah sekian lama berdiam diri.
"Halo semuanya, Robert Alberts di sini. Saya telah diam mengenai masalah ini cukup lama, dan ada alasannya. Saya tidak pernah ingin membawa sengketa pribadi ke ranah publik atau menciptakan masalah yang tidak perlu bagi siapa pun. Saya memilih untuk mengikuti proses yang tepat dan membiarkan FIFA menangani masalah ini," kata Robert Alberts.
Ia mengungkapkan bahwa sorotan publik belakangan ini dinilai sangat tidak adil bagi kehidupan pribadinya.
"Tapi baru-baru ini, saya telah melihat dan mendengar komentar-komentar dari orang-orang yang jelas tidak tahu ceritanya, dan mereka mulai menyalahkan keluarga saya serta diri saya sendiri. Dan sejujurnya, itu tidak baik dan tidak adil juga. Jadi, itulah alasan mengapa saya akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Robert.
Mengenai status kontraknya, Robert mengklarifikasi bahwa hubungannya dengan Pangeran Biru sejatinya tidak berakhir melalui pemecatan.
"Kembali pada tahun 2021, saya menandatangani perjanjian saya dengan Persib, dan kontrak saya berlangsung hingga Mei 2025. Penting untuk dicatat bahwa saya tidak pernah dipecat pada saat itu, melainkan saya mengundurkan diri dari posisi saya sebagai pelatih kepala," tutur Robert.
Sengketa finansial ini mulai memasuki babak baru saat terjadi perubahan struktur manajemen di tubuh klub Maung Bandung.
"Manajemen Persib berubah setelah itu, dan dengan manajemen yang baru, saya mencoba mendiskusikan pembayaran yang tertunda dalam sebuah rencana pembayaran. Kami merundingkan pengaturan pembayaran selama masa durasi kontrak saya, dan pada Januari 2025, saya secara pribadi bertemu dengan Aditia dari manajemen baru," ucap Robert.
Pertemuan langsung dengan Deputy CEO PT PBB Adhitia Putra Herawan pada Januari 2025 menghasilkan kesepakatan skema cicilan.
"Kami duduk berhadapan, mencoba menyelesaikan semuanya bersama-sama; sebuah solusi yang seharusnya lebih baik bagi kedua belah pihak. Dan saya tentu saja juga tertarik untuk membantu klub, karena saya memahami situasi mereka. Kami mencapai kesepakatan untuk melakukan cicilan dari Maret hingga Desember 2025," tambah Robert.
Dalam kesepakatan baru tersebut, Robert secara sukarela memotong nilai nominal sisa kontraknya demi meringankan beban finansial klub.
"Sebenarnya, saya setuju untuk mengurangi jumlah awal, dan saya bersedia berkompromi, menerima kurang dari jumlah kontrak asli karena saya juga memahami situasi klub dan benar-benar berusaha membantu Persib juga," ungkap Robert.
Ia menegaskan penyesuaian hak tersebut dilakukan secara ikhlas dan berniat baik tanpa paksaan.
"Jadi ini bukan situasi di mana saya tiba-tiba menuntut sesuatu yang tidak masuk akal dari klub. Saya sudah berkompromi, sudah mengurangi apa yang menjadi hak saya, dan menyetujui pengaturan pembayaran dengan niat baik. Hal yang saya harapkan setelah itu hanyalah agar perjanjian yang telah ditandatangani tersebut dihormati," pukas Robert.
Robert juga menepis klaim yang menyebut manajemen klub tidak menyadari keberadaan kasus sengketa ini.
"Ada satu poin lagi yang ingin saya klarifikasi karena saya telah mendengar pernyataan bahwa Persib tidak tahu-menahu mengenai kasus ini. Saya merasa sulit untuk memahaminya karena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan klub," kata Robert.
Ia mengingatkan kembali bahwa komunikasi formal sudah disepakati jauh sebelum sanksi dijatuhkan.
"Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa kita telah mengadakan pertemuan pada Januari 2025 di mana kita telah menyelesaikan masalah-masalah ini," ujar Robert.
Karena cicilan yang disepakati tidak direalisasikan secara konsisten, sengketa ini akhirnya diproses secara resmi melalui badan sengketa FIFA.
"Klub mengetahui tentang pengaturan pembayaran, klub mengetahui tentang pembayaran yang tertunda, masalah ini dibawa ke hadapan FIFA, dan FIFA mengeluarkan keputusan resmi. Ini bukan sekadar klaim pribadi saya atau sesuatu yang saya putuskan sendiri. Ini adalah proses resmi FIFA; bukti-bukti telah diserahkan dan FIFA telah membuat keputusannya," terang Robert.
Keputusan FIFA menetapkan adanya kewajiban tertunggak yang berujung pada tindakan disiplin hukuman pendaftaran pemain.
"FIFA telah menentukan bahwa Persib memiliki kewajiban yang belum diselesaikan kepada saya dan memerintahkan pembayaran tahun lalu. Ketika pembayaran masih belum dilakukan oleh Persib, konsekuensi di bawah proses FIFA pun mengikuti, termasuk sanksi pendaftaran tahun lalu," jelas Robert.
Meskipun pihak Persib sempat merespons sanksi tersebut dengan melakukan pembayaran, hak yang diberikan baru mencakup sebagian cicilan.
"Setelah FIFA memerintahkan sanksi tersebut tahun lalu, Persib segera membayar saya, tetapi itu baru sebagian dari pembayaran. Masih banyak bulan-bulan lainnya yang harus dibayarkan hingga Desember 2025," lanjut Robert.
Selama proses berlangsung, Robert mengaku selalu membuka pintu diplomasi secara internal agar terhindar dari sanksi publik.
"Saya mencoba menyelesaikan masalah ini secara langsung sepanjang waktu, menghubungi klub, saya menginginkan penjelasan mereka, dan saya memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Saya diam cukup lama karena ingin melindungi hubungan baik, dan juga karena saya sungguh berharap kita bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus melalui FIFA," tutur Robert.
Sikap FIFA yang menjatuhkan sanksi murni merupakan prosedur baku atas kelalaian pemenuhan kewajiban finansial.
"Jadi, saya rasa sekarang sudah sangat jelas bahwa orang-orang tahu itu adalah kesepakatan yang dibuat antara manajemen baru pada Januari 2025, di mana mereka harus membayar sisa uang saya yang jumlahnya sudah lebih sedikit dari sebelumnya. Dan karena uang tersebut tidak dibayarkan, FIFA bertindak sebagaimana mestinya, dan saya pun bertindak sebagaimana mestinya," kata Robert.
Ia mengimbau publik agar menilai seluruh permasalahan secara obyektif berdasarkan fakta legal yang ada.
"Saat sisa uang tidak dibayarkan, FIFA bertindak sesuai dengan kapasitas mereka dan saya dengan kapasitas saya. Nilailah situasi berdasarkan fakta, jangan berasumsi, dan mendengar rumor. Jangan berbicara buruk tentang saya atau keluarga saya setelah mendengar fakta ini," tegas Robert.
Sengketa tersebut kini telah selesai sepenuhnya setelah manajemen Persib melunasi seluruh sisa tunggakan gaji.
"Dan sebagai informasi untuk Anda, kemarin Persib telah membayar penuh seluruh jumlah yang tertunda, dan kemarin saya juga sudah menginformasikan kepada FIFA untuk mencabut sanksi tersebut," ucap Robert.
Dengan tuntasnya pembayaran tersebut, juru taktik asal Belanda itu menutup seluruh polemik sengketa dengan Persib Bandung.
"Dengan ini, saya akan meninggalkan masalah ini dan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut lagi dan seperti biasa saya akan bilang… Bagussssss," pungkas Robert.