Petrosea Divestasi Saham KMS dan Lepas Kendali Perusahaan ke Singaraja Putra
PT Petrosea Tbk (PTRO) melepas 99,995 persen saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) kepada PT Singaraja Putra Tbk (SINI) senilai Rp 1,73 triliun untuk memperkuat fokus usaha inti perusahaan, menurut keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 10 Agustus 2026. Selain itu, Petrosea berpartisipasi dalam Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) SINI sebesar Rp 1,19 triliun yang memberikan Petrosea kepemilikan 19,88 persen saham di SINI. Sekretaris Perusahaan Petrosea, Anto Broto, menegaskan bahwa divestasi ini mengakhiri kendali Petrosea atas KMS demi optimalisasi portofolio perusahaan.
"Dengan divestasi tersebut, Petrosea tidak lagi mengendalikan KMS serta tidak memiliki kepemilikan langsung atas perusahaan tersebut," ujar Anto Broto.
Manajemen Petrosea menegaskan bahwa investasi di SINI bertujuan keuntungan finansial jangka panjang tanpa intervensi pada manajemen internal SINI. "Penyertaan modal di SINI merupakan keputusan investasi portofolio dan tidak ditujukan untuk mengendalikan atau mengkonsolidasi laporan keuangan SINI," kata Anto.
Petrosea menyatakan dana hasil HMETD SINI sebesar Rp 1,51 triliun sudah dicairkan pada 24 Juli 2026 untuk pembayaran utama transaksi, dengan sisa kewajiban Rp 218,4 miliar dijadwalkan lunas bertahap hingga akhir 2028 menggunakan arus kas operasional dari Izin Usaha Pertambangan (IUP) aktif SINI. "Sebesar Rp 1,51 triliun telah dibayarkan menggunakan dana hasil PMHMETD pada 24 Juli 2026," ucap Anto.
Petrosea juga menerapkan denda bunga tahunan 7,5 persen jika SINI gagal memenuhi jadwal pembayaran. "Jika SINI tidak memenuhi kewajibannya, maka akan dikenakan bunga 7,5% per tahun dan dianggap memiliki utang yang dapat ditagih sampai pelunasan penuh," jelas Anto. Dari sisi SINI, melalui anak usahanya, telah menyepakati kontrak jasa pertambangan batu bara sepanjang umur tambang dengan Petrosea di Kapuas Tengah, Kalimantan Tengah, dengan proyeksi omzet total Rp 57,05 triliun.
Direktur Utama Singaraja Putra, Amir Antolis, menjelaskan operasional awal di dua ladang batubara utama akan dimulai bertahap sesuai kesiapan akses jalan dan regulasi pemerintah.
"Kegiatan first cut diharapkan dapat dilaksanakan pada kuartal IV-2026 untuk PBC dan semester II-2027 untuk CBP setelah akses jalan ke CBP selesai dan RKAB 2027 disahkan," ujar Amir Antolis. Untuk infrastruktur pendukung seperti pelabuhan dan area penyimpanan batubara, SINI memanfaatkan fasilitas milik pihak ketiga yang sudah ada dan kapasitasnya sesuai rencana produksi PBC dan CBP. "Pelabuhan dan stockpile akan menggunakan fasilitas pihak ketiga yang sudah tersedia dan kapasitasnya sesuai rencana," kata Amir.
Kemajuan pembebasan lahan operasional dilaporkan mencapai 45 persen untuk area PBC dan 15 persen untuk CBP hingga laporan terakhir.