Petrosea Divestasi KMS dan Investasi Rp1,19 Triliun di Singaraja Putra

Share

PT Petrosea Tbk (PTRO) mengumumkan divestasi saham 99,995% PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dan investasi Rp1,19 triliun di PT Singaraja Putra Tbk (SINI) sebagai bagian dari strategi bisnisnya pada Agustus 2026, dilansir dari laporan BEI.

Divestasi terhadap KMS bertujuan memperkuat fokus Petrosea pada lini bisnis utama seperti jasa pertambangan, rekayasa konstruksi, EPCI migas lepas pantai, serta logistik terintegrasi. Setelah transaksi, Petrosea tidak lagi mengendalikan KMS maupun memiliki saham langsung di perusahaan tersebut, ujar Sekretaris Perusahaan Petrosea, Anto Broto.

Petrosea mengambil bagian dalam Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) SINI dengan penyertaan modal sekitar Rp1,19 triliun, sehingga menguasai sekitar 19,88% saham SINI. Investasi ini merupakan keputusan portofolio dan bukan untuk mengendalikan atau mengonsolidasikan laporan keuangan SINI, tambah Anto.

Investasi ini dinilai memberikan diversifikasi bisnis dan risiko tanpa mengubah fokus usaha utama Petrosea. Secara finansial, langkah ini membuka peluang peningkatan nilai investasi dan imbal hasil dari kinerja SINI yang sudah beroperasi dengan arus kas kegiatan pertambangan yang stabil.

Dari sisi keuangan, Petrosea mencatat pendapatan segmen pertambangan mencapai US$140,56 juta pada kuartal I-2026, sementara total pendapatan naik 84,2% year on year menjadi US$284,13 juta. Laba bersih juga meningkat 50,5% menjadi US$1,38 juta, menurut laporan keuangan PTRO per Maret 2026.

Transaksi penjualan KMS ke SINI melibatkan pembayaran tunai Rp1,512 triliun yang telah diselesaikan pada 24 Juli 2026 menggunakan dana hasil HMETD SINI. Sisa kewajiban Rp218,4 miliar akan dibayar bertahap oleh SINI dengan bunga 7,5% per tahun hingga akhir 2028.

Anto menjelaskan, kas internal SINI yang berasal dari arus kas operasional Izin Usaha Pertambangan (IUP) akan digunakan untuk melunasi sisa pembayaran tersebut. Jadwal pembayaran bunga dilakukan setiap 31 Desember untuk tahun 2026 dan 2027, serta pelunasan pokok dan bunga pada akhir 2028.

Petrosea menegaskan jika SINI gagal memenuhi kewajiban pembayaran, bunga tetap berjalan dan utang dianggap masih ada sampai lunas.

Sehubungan dengan investasi dan pengelolaan portofolio Petrosea, Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan mengenai konsistensi strategi perusahaan yang melepas KMS namun mengalokasikan dana besar ke SINI. Manajemen Petrosea menegaskan bahwa divestasi dan investasi tersebut tetap sejalan dengan fokus bisnis utama perseroan.

Dari sisi produksi, Direktur Utama Singaraja Putra Amir Antolis menyampaikan estimasi produksi batu bara dari tambang PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) sebesar 42 juta ton dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP) sebesar 8 juta ton dengan total estimasi pendapatan mencapai Rp57,05 triliun sepanjang masa kontrak.

Infrastruktur pendukung seperti jalan hauling menuju CBP sudah mencapai progres 83,74% dan diperkirakan selesai Februari 2027, sementara jalan PBC sudah selesai tahap surfacing. Pelabuhan dan stockpile akan menggunakan fasilitas pihak ketiga yang sudah sesuai kapasitas produksi, ujar Amir.

Proses pembebasan lahan untuk area operasi PBC dan CBP masih berlangsung dengan progres sekitar 45% untuk PBC dan 15% untuk CBP, meskipun terdapat kendala klaim kepemilikan dan proses negosiasi dengan pemilik lahan.

Hingga saat ini, belum ada kontrak penjualan resmi atas produksi PBC dan CBP, namun perseroan tengah melakukan penjajakan dengan beberapa calon pembeli yang memiliki pengalaman di industri batu bara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author