DOKU Dorong Solusi Sistem Pembayaran Berbasis Skala Bisnis
Sistem pembayaran digital kini menjadi kebutuhan krusial yang harus menyesuaikan perkembangan skala operasional perusahaan. Penyamarataan solusi transaksi tanpa melihat tingkat kompleksitas usaha dinilai dapat menghambat pertumbuhan bisnis menengah dan brand lokal.
Head of SME Business DOKU, Hasto Kusumo, menilai bahwa pelaku usaha mikro dan perusahaan berkembang memiliki kebutuhan keuangan yang sangat berbeda. Permasalahan sering muncul saat penyelenggara jasa keuangan menerapkan regulasi dan layanan secara seragam.
"Yang sering orang lupakan adalah menganggap kebutuhan pembayaran itu sama di semua tingkat, sebagai penyelenggara jasa keuangan yang highly-regulated sering kali menyamaratakan solusi yang ditawarkan yang berakibat pada penerapan level regulasi me reka yang sama. Yang pada kenyataannya kebutuhan di level mikro adalah kemudahan menerima pembayaran, mereka tidak mau proses yang merepotkan, di level lebih tinggi kebutuhan solusi pasti lebih kompleks, jadi regulasi yang diterapkan juga harus lebih rigid," ujar Hasto dikutip dari Detik Finance.
Perkembangan skala usaha berbanding lurus dengan makin rumitnya tata kelola transaksi, proses settlement, hingga rekonsiliasi. Pemahaman tersebut didapatkan Hasto dari pengalamannya di berbagai industri digital seperti telekomunikasi, e-commerce, dan digital identity.
"Di digital identity, saya belajar bahwa kepercayaan itu hasil dari sistem yang dirancang dengan baik bukan hanya gimmick marketing," kata Hasto.
Pengalaman lintas sektor tersebut diterapkan DOKU untuk melayani beragam karakter merchant. Layanan yang disediakan mencakup penerimaan pembayaran QRIS sederhana bagi usaha mikro hingga otomatisasi transaksi untuk jaringan usaha berkonsep multi-cabang.
"Kami melayani berbagai macam industri dari yang mikro sampai dengan local brand dengan ratusan cabang, yang kami lakukan adalah memberikan apa yang mereka butuhkan dari yang hanya sekedar menerima pembayaran QRIS, sampai dengan proses settlement secara otomatis untuk ratusan cabang mereka, jadi use-caseness sangat luas di SME ini dari yang paling sederhana sampai yang sampai serumit enterprise," tuturnya.
Kemudahan laporan keuangan dirasakan oleh salah satu mitra jaringan bengkel berskala ratusan cabang. Lewat fitur split settlement, alur keuangan antara unit cabang dan kantor pusat menjadi jauh lebih terstruktur dan ringkas.
"Merchant yang kami berkembang bersama adalah salah-satu jaringan bengkel yang terdiri dari ratusan cabang. Dengan fitur split settlement kami, kami berhasil membantu mereka untuk mensimplifikasi laporan alur keuangan antar cabang dan juga di kantor pusat. Seringkali dampak yang diberikan oleh DOKU tidak langsung di sistem pembayarannya, tetapi mungkin lebih dari itu," ujar Hasto.
Peningkatan volume transaksi menuntut perlindungan keamanan tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna. DOKU menerapkan pendekatan keamanan adaptif berbasis tingkat risiko (layered, risk-based approach) guna mendeteksi anomali tanpa menimbulkan friksi berlebih.
"Keamanan dan kenyamanan itu sering dianggap trade-off, padahal pendekatan yang tepat bukan 'makin ketat makin aman.' Kami memakai layered, risk-based approach – bukan satu checkpoint seragam untuk semua transaksi. Transaksi dengan pola normal nyaris tanpa friksi tambahan; begitu ada anomali, lonjakan nominal, perangkat baru, lokasi tidak biasa, barulah lapisan verifikasi dan otentikasi dapat masuk secara adaptif. Proses pengamanan dilakukan tidak hanya pada saat transaksi terjadi, tetapi jauh sebelum itu, verifikasi merchant itu sendiri, serta post-monitoring juga dilakukan di sisi kami," jelasnya.
Selain faktor keamanan, adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) turut dioptimalkan pada ranah operasional. Penerapan AI diarahkan langsung untuk meningkatkan proteksi serta efisiensi integrasi sistem merchant.
"Mengingat saat ini audiens dan pelaku bisnis sudah sangat familiar dengan kapabilitas AI, kami memfokuskan implementasinya bukan lagi sebagai gimmick fitur dasar, tapi langsung pada dua layer operasional esensial: proteksi dan efisiensi. Kami mengembangkan teknologi yang AI-ready sehingga merchant yang operasionalnya menggunakan AI, sudah bisa menggunakan layanan kami bahkan untuk integrasinya," kata Hasto.
Penyiapan Infrastruktur untuk Ekspansi Pasar
Persiapan infrastruktur pembayaran yang matang menjadi syarat mutlak bagi merek lokal yang mulai merambah pasar internasional. Penyiapan ini mencakup dukungan terhadap metode pembayaran lokal negara tujuan, multi-mata uang, hingga manajemen risiko.
"Untuk bisnis yang mulai berekspansi ke pasar internasional, infrastruktur pembayaran perlu dipersiapkan sejak awal, bukan setelah volume transaksinya besar. Yang penting bukan hanya bisa menerima pembayaran dari luar negeri, tetapi juga mendukung berbagai metode pembayaran lokal, mata uang, settlement, rekonsiliasi, dan manajemen risiko di masing-masing pasar," ujarnya.
Pengembangan fondasi operasional dan keuangan harus sejalan dengan kenaikan angka penjualan. Kesiapan cash flow dan operasional menjadi penopang utama agar pertumbuhan bisnis dapat berlangsung secara sehat.
"Pelaku bisnis juga perlu melihat ekspansi bukan sekadar memperluas penjualan, tetapi membangun fondasi yang bisa scalable. Mulai dari pasar yang paling relevan, pahami perilaku konsumennya, dan pastikan operasional serta cash flow siap mengikuti pertumbuhan," kata Hasto.
"Jadi jangan hanya mengejar growth, bangun sistem yang mampu menopang growth tersebut. Pertumbuhan yang sehat adalah ketika penjualan meningkat, tetapi margin, cash flow, operasional, dan pengalaman pelanggan tetap terjaga," lanjutnya.
Proses pembentukan ekosistem digital yang matang di Indonesia masih terus berjalan. Tingginya adopsi transaksi seperti QRIS perlu diimbangi dengan integrasi mendalam ke dalam alur kerja bisnis secara mandiri.
"Secara metrik volume dan adopsi QRIS, kita memang terlihat sangat tinggi. Tapi secara infrastruktur ekosistem, kita masih di tahap awal. Cashless society yang matang bukan sekadar soal orang membayar tanpa uang fisik. Ini tentang seberapa dalam infrastruktur digital tersebut terintegrasi ke workflow bisnis," jelasnya.
Kemandirian sektor bisnis menengah dalam mengelola alur kas, saluran penjualan mandiri, dan mitigasi risiko menjadi indikator penting kedewasaan ekosistem digital nasional.
"Tantangannya sekarang adalah bagaimana local brand bisa membangun kanal penjualan mandiri (owned channel), mengelola cash flow, dan memitigasi fraud secara independen. Di sinilah segmen bisnis menengah akan menjadi motor penentunya. Jika mereka bisa mandiri secara digital, barulah kita bisa bicara soal ekosistem yang benar-benar mature," pungkas Hasto.