GAPKI Dorong Transformasi Teknologi Sawit Hadapi Tantangan Industri

Share

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendorong penguatan inovasi dan transformasi teknologi guna mengatasi tantangan berat pada industri kelapa sawit nasional pada Selasa (26/5/2026). Langkah strategis ini diambil demi merespons isu keterbatasan tenaga kerja, efisiensi, tuntutan keberlanjutan, perubahan iklim, hingga regenerasi sumber daya manusia.

Sektor hulu kini menjadi fokus utama melalui pembentukan berbagai konsorsium lintas perusahaan, seperti konsorsium sumber daya genetik, Ganoderma, serta mekanisasi, digitalisasi, dan otomasi (MDO). Upaya kolaboratif tersebut bertujuan mempercepat adopsi teknologi lewat ekosistem pembelajaran bersama di perkebunan Indonesia, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

"Kalau kita bicara teknologi, research innovation ada idiom yang mengatakan innovate or die, inovasi atau mati. Persaingan di industri minyak ini luar biasa," ujar Ketua Bidang Riset & Pengembangan GAPKI, Dwi Asmono.

Pihak asosiasi menegaskan pentingnya wadah bersama agar para anggota tidak bergerak sendiri-sendiri dalam melakukan uji coba teknologi baru.

"Industri membutuhkan shared learning, benchmarking, pilot project bersama, dan keberanian mencoba teknologi baru. GAPKI hadir sebagai platform kolaborasi industri," kata Dwi Asmono.

Transformasi ke arah digitalisasi dan otomasi dinilai menjadi solusi yang mendesak untuk menjaga daya saing industri di tingkat global. Implementasi nyata dari komitmen ini diwujudkan melalui kegiatan benchmarking berkala, yang kali ini dilaksanakan di kebun PT Binasawit Abadipratama, Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

"Masa depan sawit Indonesia tidak hanya ditanam di tanah, tetapi juga dibangun melalui inovasi dan kolaborasi," tambah Dwi Asmono.

Penerapan inovasi di lapangan terbukti mempermudah operasional yang sebelumnya mengandalkan metode manual. PT Binasawit Abadipratama sendiri menerapkan metode replanting rorak yang dirancang untuk mendongkrak hasil panen perdana secara signifikan.

"Jika target sebelumnya pada usia 31-42 bulan setelah tanam sekitar 10 ton, sekarang kita bisa meningkat menjadi 15 bahkan sampai 20 ton per hektar untuk yield panen perdana," tutur CEO PT Binasawit Abadipratama, Benny Yusuf Setiawan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author