Dokter Tanggapi Perbedaan Diagnosis Usus Buntu Influencer Fahira Almira
Pakar Global Health Security, dr Dicky Budiman, memberikan penjelasan terkait kasus influencer Fahira Almira yang mendapatkan diagnosis usus buntu berbeda dari tiga rumah sakit di Indonesia sebelum akhirnya diperiksa di sebuah rumah sakit di Penang, Malaysia, pada Selasa (11/8/2026).
Perbedaan hasil pemeriksaan tersebut menjadi perbincangan publik setelah Fahira membagikan pengalamannya melalui media sosial TikTok, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Dicky menerangkan bahwa perbedaan diagnosis antarrumah sakit merupakan hal wajar yang dipengaruhi oleh jeda waktu pemeriksaan selama tiga bulan, keahlian tenaga medis, serta kondisi pasien itu sendiri.
"Kenapa bisa terjadi perbedaan diagnosis antar rumah sakit Ini bukan fenomena aneh, ya, atau eksklusif di Indonesia atau di ASEAN bahkan," tutur dr Dicky kepada detikcom dalam wawancara pada Selasa (11/8/2026).
Terkait penggunaan alat ultrasonografi (USG) dalam pemeriksaan usus buntu, tingkat keahlian dan kejelian operator memegang peranan sangat vital dalam menentukan hasil visualisasi organ.
"Secara objektif, USG itu bersifat sangat operator dependent, jadi studi menunjukkan apendiks (usus buntu) gagal tervisualisasi pada 30-50% kasus. Artinya, variasinya sangat bergantung juga pada keahlian operator, termasuk teknologi, skill, dan pengalaman," imbuhnya.
Faktor fisik pasien seperti obesitas, penumpukan gas usus, hingga posisi organ yang tersembunyi juga memicu variasi ketepatan diagnosis saat prosedur USG berlangsung.
"Kemudian, ada faktor pasien juga. Jadi, misalnya pasiennya obesitas, ga ada gas usus, posisi apendiks juga retrosekal. Ini terjadi pada 60 persen kasus dan ini yang sangat memengaruhi hasil dari USG itu," tambahnya.
Perubahan kondisi klinis radang usus buntu yang membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu turut memicu perbedaan hasil medis antara tempat pemeriksaan awal dan lokasi lanjutan.
"Kemudian juga faktor waktu, jadi kondisi klinis bisa berubah antar pemeriksaan. Jadi, radang bisa memburuk tapi juga bisa mereda spontan atau self-limiting appendicitis. Ini dikenal sekali dalam literatur.
Ketika ada jeda waktu antara pemeriksaan di Indonesia dan di Penang cukup lama, hasil yang berbeda tidak otomatis berarti satu pihak keliru. Bisa jadi kondisinya memang berubah si pasien," jelasnya.
Kemungkinan lain yang memicu gejala nyeri serupa radang usus buntu adalah terjadinya penumpukan kotoran di dalam saluran pencernaan pasien.
"Selain itu, ada diagnosis banding. Yang relevan di sini adalah fecal infection atau penumpukan tinja. Kondisi ini bisa menimbulkan nyeri perut kanan bawah yang mirip apendisitis dan juga secara teori bisa menyebabkan distensi ya, pembesaran apendiks tanpa inflamasi," pungkas dr Dicky.
Adanya kemungkinan radang ringan maupun over diagnosis awal membuat temuan diagnosis yang berbeda tetap dinilai valid tanpa adanya rekam medis yang lengkap.