BEI Dorong Perusahaan Kreatif Milik Artis Lakukan IPO
Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong perusahaan milik selebritas serta pembuat pengaruh di sektor ekonomi kreatif untuk merealisasikan pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) di pasar modal.
Langkah strategis ini dilakukan melalui pembahasan bersama Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf). Pembukaan ruang kolaborasi ini bertujuan agar otoritas bursa dapat mendalami proyeksi sekaligus tata kerja sektor tersebut, seperti dilansir dari Detik Finance.
"Saya sudah berdiskusi juga dengan Pak Menteri Ekraf, ya bagaimana supaya kita bisa menjalin kerja sama, bertukar informasi ya, supaya kami di bursa juga bisa melihat prospek, memahami bagaimana struktur bisnis di industri kreatif," ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026) kemarin.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan kesiapan lembaganya untuk memfasilitasi seluruh lapisan masyarakat yang ingin memahami mekanisme regulasi pasar modal. Pelaku industri kreatif juga diimbau mulai mempelajari persyaratan menjadi perusahaan terbuka.
"Teman-teman di industri kreatif juga bisa mulai mempersiapkan diri memahami bagaimana regulasi untuk bisa menjadi perusahaan tercatat. Artis, pelajar, ya, siapapun kelompok masyarakat, tentu kami silakan untuk datang dan belajar di bursa," terangnya.
Selain rencana pemetaan industri kreatif secara umum, otoritas bursa mengonfirmasi adanya satu perusahaan berskala besar dari subsektor hiburan yang berada dalam antrean penawaran saham. Entitas yang mengelola objek wisata edukasi satwa tersebut diproyeksikan meraup dana paling besar dibandingkan calon emiten lain saat ini.
"Yang saya bilang yang gede ini, bukan Production House, bukan. Itu terkait dengan secara real dapat kita nikmati entertainment-nya. Artinya, kalau dari sisi, kalau anak-anak ingin kita educate, ada kebun binatangnya. Itu kan relatif secara real bisa kita lihat," ungkap Nyoman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna memastikan bahwa calon emiten dengan aset jumbo tersebut bukan bergerak di bidang rumah produksi, melainkan penyedia sarana hiburan fisik.