Keluarga Sutrimo Ungkap Kejanggalan Kematian Pramuwisma Febrie Adriansyah
Keluarga Sutrimo mencurigai penyebab kematian pria asal Desa Wlahar, Wangon, Banyumas, yang ditemukan tewas di depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setelah menemukan sejumlah kejanggalan pada dokumen medis serta hilangnya barang pribadi almarhum.
Sutrimo diketahui bekerja lama mengurus rumah tangga dan proyek bangunan milik mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, sebelum akhirnya dilaporkan meninggal dunia beberapa jam usai mengirimkan pesan terakhir kepada keluarganya.
Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, menjelaskan kronologi awal penanganan jenazah saat tiba di rumah duka pada malam hari sebelum kecurigaan pihak keluarga mulai bermunculan.
"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan.
Pihak keluarga awalnya menerima informasi bahwa kadar gula darah Sutrimo menembus angka 600 karena almarhum memiliki riwayat penyakit gula.
"Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujarnya.
Kecurigaan pihak keluarga mulai timbul akibat barang-barang milik almarhum, seperti dompet dan ponsel pribadi, tidak kunjung dikembalikan oleh pihak pengantar jenazah.
"Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ucap Aan.
Selain itu, keluarga berada dalam situasi dilematis untuk melaporkan peristiwa ini karena keterbatasan finansial dan rasa takut berhadapan dengan tokoh besar.
"Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata dia.
Sikap tertutup dari pengantar jenazah semakin memperkuat dugaan adanya hal yang disembunyikan dari pihak keluarga.
"Setelah kita lihat belakangan, HP enggak pulang-pulang. Dompet enggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan.
Keluarga juga menyoroti kondisi ekonomi mereka yang membatasi ruang gerak dalam mengawal kasus kematian Sutrimo secara hukum.
" Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang.
Sementara mereka itu untuk hidup saja susah. Kondisi emosional keluarga, terutama ibu Sutrimo, juga menjadi salah satu pertimbangan," ujarnya.
Kejanggalan lain terungkap setelah tim kuasa hukum mendapatkan dokumen kronologi medis yang sebelumnya tidak pernah diberikan kepada pihak keluarga.
"Saya kaget, enggak ada loh. Kita enggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan," katanya.
Aan menegaskan adanya dugaan kesengajaan untuk menyembunyikan informasi kondisi fisik Sutrimo sebelum tewas.
"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan.
Dari pemeriksaan dokumen tersebut, ditemukan pula kecocokan tanda tangan pihak pengantar jenazah.
"Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan yang ada di kami," ungkapnya.
Sebelum ditemukan tewas, Sutrimo sempat diminta kembali ke Jakarta oleh Febrie Adriansyah satu hari setelah kediaman mantan Jampidsus tersebut digeledah polisi pada 8 Juli.
"Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya," ujar Aan.
Dalam komunikasi telepon tersebut, Febrie bahkan bersedia menanggung seluruh biaya perjalanan Sutrimo menuju Jakarta.
"Nah dia pulang memang ditelepon sama Pak Febrie. Pengakuan dari salah satu saksi, bosnya telepon. Intinya, 'kamu pulang saja (ke Jakarta), karena aku ini lagi kalau mau cerita sama siapa' gitu.
Sutrimo menyampaikan, 'saya nggak punya uang, Bos'. Lalu dijawab tiket sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, dan nanti kamu ditemani dua orang dari Stasiun Purwokerto," ujarnya.
Sutrimo diperkirakan kembali ke Jakarta sebelum pertengahan Juli berdasarkan catatan komunikasi yang tersisa.
"Pokoknya sebelum tanggal 19, 18 atau 19, saya enggak pasti karena saya lihat WA-nya mulai 19," jelasnya.
Hubungan Sutrimo dengan pihak keluarga sebenarnya berjalan sangat harmonis melalui komunikasi rutin setiap hari.
"Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain," tutur Aan.
Komunikasi terakhir tercatat pada 23 Juli sekitar pukul 03.18 WIB saat Sutrimo mengirimkan foto makanan sebelum hilang kontak.
"Terakhir (komunikasi) itu dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juli. Dia terakhir jam 03.18 itu ngirim foto makanan," kata Aan.
Menu makanan dalam foto tersebut tampak seperti hidangan khas restoran lokal.
"Makanannya ayam goreng, ayam goreng Lamongan, piringnya hijau. Jadi ayam goreng, lalapan, kayak Lamongan gitu," jelasnya.
Tak lama kemudian, Sutrimo sempat mengirimkan foto dirinya sedang berada di seberang rumah Febrie Adriansyah.
"Jam 04.00 dia juga ngirim foto dia lagi duduk di seberang rumah utamanya Pak Febrie," ujar Aan.
Pesan balasan dari pihak keluarga pada pagi harinya hanya terbaca tanpa respons balik, sebelum akhirnya ponsel almarhum melakukan panggilan yang diangkat oleh pihak lain pada pukul 08.30 WIB.
Aan Rohaeni juga mengonfirmasi status awal mula Sutrimo yang dipercaya bekerja mengurus keperluan rumah tangga Febrie Adriansyah berawal dari keahliannya sebagai tukang bangunan.
"Oh, betul. Kalau itu betul. Cuma tentang apakah dia karumga atau bukan, keluarga nggak ada yang tahu," kata Aan.
Aan membeberkan bahwa Sutrimo berawal dari penggarap proyek fisik bangunan rumah Febrie hingga mendapat kepercayaan penuh.
"Pak Sutrimo itu memang pekerjaan dulunya awalnya adalah tukang. Memang membiayai bangunan dan lain-lain. Setahu keluarga Pak Sutrimo ini ya bangun rumah Pak Febrie," jelasnya.
Tugas keseharian Sutrimo mencakup pengelolaan berbagai urusan rumah tangga dan pembayaran operasional harian.
"Sehari-hari pekerjaan Pak Sutrimo itu macam-macam. Kadangkala disuruh ngerjain proyek. Kalau tidak keluar, ya Pak Sutrimo di rumah ngurusin rumah-rumahnya Pak Febrie," ungkapnya.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya mencakup urusan pembayaran tagihan rutin hingga perbaikan fasilitas rumah.
"Misalnya benerin apa segala macam. Termasuk disuruh bayar listrik, bayar apa. Jadi salah satu kepercayaannya beliau," kata Aan.
Laporan resmi yang dibuat oleh keluarga Sutrimo kini menjadi dasar penelusuran dan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak Polda Metro Jaya.