Diet Tinggi Protein Berisiko Memperberat Kerja Ginjal
Penerapan diet ekstrem yang membatasi kelompok makanan tertentu demi membentuk otot atau memangkas berat badan berpotensi memicu masalah kesehatan organ dalam. Kebiasaan mendorong asupan nutrisi tunggal seperti protein secara berlebihan dapat memberi tekanan berat pada fungsi ginjal. Asupan protein yang melonjak tinggi akan memicu penumpukan limbah bernitrogen di dalam tubuh.
Ginjal yang bertugas menyaring darah dan membuang sisa metabolisme tersebut terpaksa harus bekerja ekstra keras, seperti dilansir dari Detik Health. Proses penyaringan berlebih ini dikenal dengan istilah medis hiperfiltrasi glomerulus. Pada individu dengan organ yang sehat, mekanisme ini umumnya hanya bersifat sementara dan tidak langsung merusak jaringan.
Risiko gangguan kesehatan justru mengintai ketika pola makan tinggi protein ini dijalankan dalam kurun waktu panjang. Situasi menjadi kian berbahaya jika diimbangi dengan tingginya konsumsi natrium serta rendahnya asupan serat dari makanan nabati.
Dampak buruk akan terasa jauh lebih cepat pada orang yang sudah memiliki faktor risiko medis. Penurunan fungsi organ, riwayat penyakit diabetes, hipertensi, maupun batu ginjal berulang membuat ginjal tidak lagi mampu menoleransi lonjakan sisa asam dan nitrogen. Pola makan yang diterapkan oleh atlet profesional maupun figur publik di media sosial tidak bisa disamakan untuk setiap orang. Laju metabolisme, tingkat aktivitas fisik, hingga riwayat kesehatan ginjal tiap individu sangat bervariasi.
"Pola makan yang ekstrem bisa menjadi masalah, tergantung pada jumlah protein, garam, cairan, dan nutrisi lain yang dikonsumsi, serta kesehatan ginjal seseorang," kata Konsultan Neurologis & Dokter Transplantasi RS Apollo, Bengaluru, India, Dr Srivatsa A, dikutip dari laman Times of India. Penderita penyakit ginjal kronis umumnya diwajibkan membatasi asupan protein untuk menekan akumulasi zat sisa dalam darah. Penentuan porsi makanan yang tepat memerlukan evaluasi medis yang menyeluruh.
"Orang dengan penyakit ginjal yang sudah ada sebelumnya harus sangat berhati-hati dengan diet tinggi protein. Jumlah protein yang mereka butuhkan harus ditentukan sesuai dengan fungsi ginjal dan kesehatan mereka secara keseluruhan," katanya. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyarankan agar penderita gangguan ginjal berkonsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Langkah ini penting untuk menetapkan takaran protein, natrium, dan nutrisi harian yang aman bagi kondisi tubuh.