Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik Jelang Latihan Militer AS Korsel
Korea Utara meluncurkan rudal balistik ke arah Laut Jepang dari lepas pantai timurnya pada Rabu (12/8/2026) dini hari. Uji coba senjata ini dilakukan beberapa hari sebelum dimulainya latihan militer gabungan berskala besar antara Amerika Serikat dan Korea Selatan, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Peluncuran proyektil tersebut terdeteksi menjelang pelaksanaan agenda rutin musim panas yang dijadwalkan berlangsung selama 11 hari mulai Senin mendatang. Latihan gabungan itu dirancang untuk memperkuat kesiapan pertahanan AS dan Korea Selatan dalam menghadapi potensi ancaman nuklir dari Pyongyang.
Pemerintah Korea Utara memandang program latihan militer bersama tersebut sebagai langkah persiapan invasi ke wilayahnya. Berdasarkan catatan historis, Pyongyang kerap menembakkan rudal balistik sebagai respons balasan, baik sebelum maupun setelah latihan gabungan berlangsung.
Pihak militer Korea Selatan mengonfirmasi telah mendeteksi pergerakan peluncuran proyektil tersebut dari kawasan pantai timur. Proyektil itu diketahui bergerak melintasi wilayah perairan sebelum akhirnya jatuh.
"Militer kami mendeteksi peluncuran rudal balistik oleh Korea Utara dari wilayah Wonsan ke arah Laut Timur sekitar pukul 06.00 pagi (pukul 21.00 GMT hari Selasa)," kata Kepala Staf Gabungan Seoul.
Rudal balistik itu terbang sejauh lebih dari 700 kilometer atau sekitar 435 mil melintasi Laut Timur yang juga dikenal sebagai Laut Jepang. Saat ini otoritas intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang melakukan analisis mendalam terkait spesifikasi teknis proyektil tersebut.
Pemerintah Jepang turut memantau pergerakan aktivitas militer tersebut melalui kementerian terkait. Hasil pantauan mengonfirmasi bahwa proyektil yang ditembakkan telah jatuh di luar wilayah teritorial mereka.
Kementerian Pertahanan Jepang menyebut objek itu sebagai dugaan rudal balistik dan mengandalkan analisis bahwa proyektil diperkirakan sudah jatuh tanpa memberikan rincian lokasi spesifiknya.
Para pengamat politik internasional menilai tindakan tegas dari pihak Pyongyang ini merupakan bentuk peringatan terbuka bagi pihak sekutu. Langkah tersebut diambil guna menunjukkan sikap pemantauan ketat dari pemerintah Korea Utara.
"Korea Utara tidak pernah membiarkan latihan militer gabungan Korea Selatan-AS berlalu begitu saja tanpa tanggapan," kata pengamat Korea Utara dari Universitas Kyungnam, Lim Eul-chul.
Sikap balasan tersebut diprediksi dapat terus berlanjut tergantung pada intensitas perkembangan latihan militer di kawasan peninsula.
"Ini adalah pesan bahwa Pyongyang memantau dengan cermat latihan mendatang dan dapat melakukan provokasi jika dianggap perlu," kata Lim Eul-chul.
Pemerintah Jepang merespons peluncuran ini dengan menyampaikan keberatan resmi kepada pihak Korea Utara. Langkah diplomasi langsung diambil untuk memprotes ancaman stabilitas keamanan di kawasan Asia Timur tersebut.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyebut peluncuran rudal tersebut sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan kawasan. Ia menyatakan bahwa Tokyo telah menyampaikan protest keras kepada Korea Utara melalui saluran diplomatik di Beijing.