Bapanas Pastikan Harga Beras SPHP Tidak Naik Imbas Penguatan Dolar AS
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah tidak memengaruhi harga jual beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Stabilitas harga dan kualitas beras program pemerintah tersebut dipastikan tetap terjaga untuk seluruh wilayah Indonesia, seperti dilansir dari Detik Finance pada Selasa (26/5/2026).
"Jadi, memang dengan nilai kurs dolar yang berubah dapat berpengaruh ke berbagai hal, termasuk sektor pangan. Tapi kaitan dengan beras SPHP, ini karena program pemerintah, sampai hari ini dipastikan tidak ada perubahan, termasuk harga penjualannya," ujar Direktur SPHP Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono dalam keterangan tertulis.
Pemerintah mengalokasikan anggaran pelaksanaan program beras SPHP sebesar Rp 4,97 triliun pada tahun 2026. Dana tersebut disiapkan guna mensubsidi penjualan sekitar 828 ribu ton beras untuk menjaga kontinuitas program yang telah berjalan sejak awal tahun sebagai perpanjangan program tahun sebelumnya.
"Seluruh masyarakat bisa tenang karena tidak ada masalah. Beras SPHP ini beras program pemerintah tetap masih sama. Termasuk kualitasnya, tetap sama-sama medium, artinya tidak ada yang dikurangi. Tetap sama," tambah Direktur SPHP Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono.
Bapanas juga menetapkan batas harga eceran tertinggi beras SPHP di tingkat konsumen berdasarkan wilayah penjualan. Untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi ditetapkan Rp 12.500 per kilogram, wilayah Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, serta Kalimantan sebesar Rp 13.100 per kilogram, sedangkan wilayah Maluku dan Papua maksimal Rp 13.500 per kilogram.
Selain harga, aturan baru mengenai pembatasan volume pembelian di tingkat konsumen dan mitra Bulog juga diberlakukan. Konsumen dapat membeli maksimal 5 kemasan ukuran 5 kilogram atau alternatif kemasan 2 kilogram maksimal 2 kemasan, dan beras bersubsidi ini dilarang keras untuk dijual kembali.
"Jadi, kita membuka ruang bagi konsumen beras SPHP untuk bisa mendapatkan volume dengan yang lebih banyak sampai maksimal 5 pack atau 25 kilogram. Termasuk transaksi pembelian yang tadinya 2 ton, di tahun 2026 ini sudah kita buka ruang, ditambah maksimal 5 ton bagi mitra Bulog. Artinya jangan sampai kosong, pedagang dapat lebih mudah, stoknya selalu tetap ada," jelas Direktur SPHP Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono.