Benny Harman Minta Maaf Usai Hardik Wartawan Perihal SBY

Share

Anggota Komisi III DPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Benny Kabur Harman menyampaikan permohonan maaf setelah melontarkan ucapan keras kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026). Insiden tersebut terjadi saat konfirmasi ketidakhadiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam Sidang Tahunan MPR 2026.

Peristiwa itu bermula ketika para jurnalis menanyakan kepastian kehadiran SBY pada Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD RI tanggal 14 Agustus 2026 serta Upacara HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026 di Istana Negara. Benny menjelaskan bahwa Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut sedang berada di Amerika Serikat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan hingga akhir bulan.

Penjelasan awal mengenai kondisi dan jadwal pemeriksaan medis SBY di luar negeri disampaikan Benny saat menjawab pertanyaan jurnalis di Kompleks Parlemen.

"Beliau lagi check up di Amerika. Beliau check up di Amerika," kata Benny di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (11/8).

Pertanyaan lanjutan mengenai estimasi kepulangan SBY ke Tanah Air kembali ditanyakan oleh wartawan untuk memastikan konfirmasi kehadiran.

"Akhir bulan," jawab Benny.

Pernyataan tersebut membuat jurnalis kembali menegaskan implikasi jadwal pemeriksaan medis tersebut terhadap kehadiran SBY pada upacara kemerdekaan di Istana.

"Kalau ke sana mau hadir gimana," jawab Benny.

Ketika jurnalis mencoba mengonfirmasi ulang kepastian ketidakhadiran SBY pada seluruh rangkaian agenda kenegaraan, Benny melontarkan ucapan yang memicu kecaman.

"Woi, kau otak kamu ada nggak. Saya jelaskan gitu kok. Iya kan. Kalau dia sudah check up di sana sampai akhir bulan, kok masih nanya lagi, banyak wartawan yang aneh-aneh sekarang ini," jawab Benny.

Pernyataan keras Benny tersebut mendapat tanggapan tajam dari Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) yang menilai ucapan politikus Demokrat tersebut telah merendahkan tugas-tugas jurnalistik.

"Kami menyayangkan dan mengecam pernyataan yang merendahkan dari Pak Benny K Harman," kata Erwin dalam keterangannya, Selasa (11/8).

Wakil Ketua KWP Erwin Siregar menilai proses konfirmasi ulang merupakan prosedur standar media untuk menjamin kejelasan dan akurasi informasi yang akan disampaikan kepada publik.

"Seharusnya bisa dijawab baik-baik karena media bertanya juga secara baik-baik. Apabila media bertanya secara berulang, itu memang perlu untuk konfirmasi ulang," ujarnya.

Organisasi pers tersebut mendesak Benny untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan mengancam akan mengambil langkah formal jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

"Kami meminta Pak Benny K Harman meminta maaf secara pribadi kepada wartawan yang bersangkutan dan juga kepada publik," tegas Erwin.

KWP juga menegaskan kesiapan mereka membawa insiden verbal ini ke forum etik legislatif.

"Jika tidak ada permintaan maaf, kami akan melaporkan persoalan ini ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD)," imbuh Erwin.

Merespons gelombang kecaman tersebut, Benny memberikan klarifikasi serta menyampaikan permohonan maaf apabila ucapannya telah menyinggung perasaan insan pers.

"Tadi teman teman tanya lagi, berarti bapak Presiden ke-6 Bapak SBY apakah hadir atau tidak hadir, kalau beliau sampai di sana akhir bulan ya otomatislah beliau nggak bisa hadir kan begitu," kata Benny di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/8).

Ia berdalih bahwa pengulangan pertanyaan oleh wartawan menjadi pemicu terlontarnya kalimat tersebut saat wawancara cegat.

"Itu sudah selesai kan begitu, lalu selesai begitu diulang lah, ini kalau tanya mesti pakai otaklah sedikit wartawan ini, jangan sudah dijawab ditanya lagi tanya lagi," sambungnya.

Benny membantah berniat merendahkan profesi pers dan menyebut insiden itu terjadi di luar substansi utama yang sedang dibahas.

"Tapi itu bukan konteksnya jadi saya mohon maaf kalau tadi merasa tersinggung, tapi tadi nggak ada soal yang lebih, itu bukan isu utamanya ya," ujarnya.

Ia menuturkan kembali bahwa substansi penjelasannya hanyalah mengenai ketidakmungkinan SBY menghadiri acara kenegaraan akibat jadwal pemeriksaan kesehatan.

"Oleh sebab itu, tentulah beliau tidak berkesempatan, tidak bisa menghadiri acara kenegaraan ini. Ya, itu sebetulnya itu intinya, sudah jelas. Lalu tadi teman-teman bertanya lagi, 'Berarti Bapak Presiden nanti, Presiden ke-6 Bapak SBY apakah hadir atau tidak hadir?' Ya, ya kalau beliau sampai di sana akhir bulan ya otomatis lah beliau tidak bisa hadir, kan begitu," kata Benny saat ditemui kembali di Kompleks Parlemen.

Benny kembali menyebutkan alasannya menegur wartawan yang melakukan konfirmasi ulang atas penjelasannya.

"Itu sudah selesai, kan begitu, ah. Lalu selesai begitu, saya bilang, ah ini kalau tanya mesti pakai otak lah sedikit wartawan ini ya. Jangan sudah dijawab ya ditanya lagi, ditanya lagi itu. Tapi itu bukan konteksnya," sambungnya.

Ia menegaskan permohonan maafnya jika ada pihak yang merasa tersinggung oleh pilihan katanya.

"Jadi saya mohon maaf kalau tadi terasa tersinggung berarti, tapi nggak ada soal yang lebih lah gitu, jadi itu bukan isu utamanya ya," katanya.

Benny menutup klarifikasinya dengan membandingkan ucapan tersebut dengan dinamika komunikasi politik sehari-hari.

"Ya biasalah itu, orang lain bilang dungu, mana? Kalau saya dibilang dungu sama orang, ya kalau saya dungu ya memang saya salah ya saya. Tapi itu bukan esensi. Oke," pungkasnya.

Sebelumnya, Pimpinan MPR RI telah merencanakan pengiriman undangan Sidang Tahunan kepada seluruh mantan presiden dan wakil presiden. Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan pengiriman undangan dimulai pada Senin (10/8/2026), sementara Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengonfirmasi bahwa Sidang Tahunan MPR RI diselenggarakan pada Jumat (14/8/2026) pagi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author