NUS Wajibkan Mahasiswa Baru Ambil Modul AI dan Akses ChatGPT Edu
National University of Singapore (NUS) mewajibkan seluruh mahasiswa baru mengambil modul kecerdasan buatan (AI) dan menyediakan akses ChatGPT Edu untuk seluruh mahasiswa serta staf mulai tahun akademik 2026. Kebijakan ini diumumkan pada Senin, 11 Agustus 2026, melalui kerja sama strategis dengan OpenAI.
Kemitraan tersebut memperluas akses teknologi kecerdasan buatan di lingkungan kampus. Mulai 31 Agustus 2026, sekitar 50.000 mahasiswa dari jenjang sarjana hingga doktoral serta jajaran staf NUS dapat memanfaatkan ChatGPT Edu yang dilengkapi sistem keamanan dan privasi tingkat universitas.
Selain penyediaan akses alat digital, NUS menerapkan kurikulum wajib bernama THE1008 Applied Generative AI: From Prompting to Evaluation bagi seluruh mahasiswa baru. Modul ini terdiri dari tiga jam kuliah daring beserta kuis dan dua jam lokakarya tatap muka yang harus diselesaikan dalam dua minggu pertama semester.
Keputusan penerapan AI ini didasari hasil survei terhadap 514 mahasiswa di Singapura yang menunjukkan bahwa 94 persen responden menggunakan AI beberapa kali dalam seminggu. Sebanyak 84 persen mahasiswa meyakini literasi AI akan menjadi kemampuan mendasar yang setara dengan literasi digital dan kemampuan menulis.
Wakil Presiden Senior dan Provost NUS Aaron Thean menjelaskan bahwa integrasi teknologi ini merupakan langkah krusial untuk memperkuat kapabilitas manusia. Penjelasan tersebut disampaikan sebelum pengumuman resmi kemitraan pada 27 Juli 2026.
"Strategi AI kami berpusat pada satu hal, yaitu membangun potensi manusia," ujar Aaron Thean, Wakil Presiden Senior dan Provost NUS.
Pihak universitas memastikan penggunaan teknologi AI bertujuan memperluas wawasan akademis tanpa mengesampingkan pemikiran kritis mahasiswa.
"Kolaborasi dengan OpenAI ini merupakan langkah penting dalam strategi AI berpusat pada manusia yang kami usung, untuk semakin memperkaya rangkaian alat bantu yang kami sediakan. Kami bertujuan memanfaatkan teknologi AI yang canggih ini bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai penguat kecerdasan, kreativitas, dan penilaian manusia yang ampuh. Dengan memberikan akses langsung secara praktis, kami memberdayakan mahasiswa, pengajar, dan staf kami untuk mengembangkan pemikiran kritis dan kearifan etis yang penting untuk berinovasi dan memimpin di dunia yang digerakkan oleh AI, memastikan kapabilitas manusia tetap menjadi yang utama," kata Aaron Thean, Wakil Presiden Senior dan Provost NUS.
Ia juga menambahkan bahwa investasi pada infrastruktur digital ini sangat dibutuhkan oleh universitas untuk menghadapi tantangan masa depan.
"Signifikan tetapi perlu," kata Aaron Thean, Wakil Presiden Senior dan Provost NUS.
Ia menegaskan bahwa pihak kampus tidak akan bergantung pada satu penyedia layanan AI saja dalam jangka panjang.
"Mereka harus belajar cukup banyak agar bisa mengajar," ujar Aaron Thean, Wakil Presiden Senior dan Provost NUS.
"Bisnis inti dari sebuah universitas sebenarnya adalah mengembangkan manusianya, bukan mengembangkan AI-nya," kata Aaron Thean, Wakil Presiden Senior dan Provost NUS.
Pengembangan sistem digital di kampus juga mendapat perhatian dari unit pengelola teknologi informasi universitas untuk memastikan perlindungan data pengguna.
"Seiring AI yang semakin terintegrasi dalam cara NUS beroperasi, sangat penting bagi kami untuk mengadopsinya secara aman, terukur, dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan OpenAI ini memberikan staf dan mahasiswa NUS akses ke kapabilitas AI tingkat lanjut dengan cara yang teratur dan bertanggung jawab. Melengkapi platform AI-Know yang dibangun secara internal oleh NUS, alat-alat OpenAI akan memperkuat kapabilitas operasional kami, mendorong layanan digital yang lebih cerdas dan administrasi yang lebih efisien yang bermanfaat bagi seluruh komunitas kami," ujar Tan Shui-Min, Chief Information Technology Officer dan Wakil Presiden NUS.
Dukungan terhadap perluasan teknologi AI ini turut disampaikan oleh pihak pengembang teknologi yang melihat potensi besar Singapura dalam peta inovasi global.
"Singapura memiliki peluang luar biasa untuk membentuk bagaimana AI berkontribusi pada pendidikan, penelitian, dan inovasi, dan NUS memiliki peran penting untuk dimainkan dalam masa depan tersebut. Membangun kolaborasi awal kami dengan NUS School of Computing, kami telah melihat pengguna terlibat lebih dalam dengan ChatGPT dan mengadopsi Codex pada tingkat yang lebih tinggi daripada pengguna di universitas dengan skala serupa. Ini mencerminkan antusiasme yang tumbuh tidak hanya untuk menemukan jawaban dengan AI, tetapi juga untuk bereksperimen, membuat prototipe, dan membangun dengannya.
Kami berharap dapat memperdalam kerja sama kami dengan NUS untuk membantu mengembangkan generasi talenta AI-native berikutnya dan menyiapkan tenaga kerja Singapura untuk masa depan berbasis AI. Dengan menyatukan kepemimpinan NUS dalam pendidikan dan penelitian bersama teknologi serta komunitas global OpenAI, kami bertujuan memperkuat ekosistem AI Singapura dan mendukung inovasi di seluruh wilayah yang lebih luas," kata Oliver Jay, Managing Director International OpenAI.
Penerapan alat bantu kecerdasan buatan ini dirasakan langsung oleh mahasiswa dalam kegiatan praktikum harian di fakultas.
"Memaksa Anda untuk menjelaskan pemikiran Anda alih-alih menghafal jawaban," kata Nicholas Lau, Mahasiswa Keperawatan Tahun Keempat NUS.
Tanggapan positif juga datang dari mahasiswa program studi lain yang menganggap akses AI dapat membantu menyelesaikan proyek-proyek rumit.
"Bisa sangat berguna bagi mahasiswa yang membutuhkan banyak bantuan dalam pemrograman, penelitian, atau proyek yang lebih kompleks. Ini dapat menurunkan hambatan bagi mahasiswa yang ingin mengeksplorasi ide atau membangun sesuatu yang mungkin tidak mereka miliki keterampilan teknisnya," ujar Dhaaniya Sree Ramesh, Mahasiswa Teknik Biomedis Tahun Ketiga NUS.
Di samping manfaat teknisnya, pengawasan terhadap penggunaan alat AI tetap menjadi perhatian utama para mahasiswa agar tidak menyalahi aturan akademis.
"Secara kritis dan bertanggung jawab," kata Dhaaniya Sree Ramesh, Mahasiswa Teknik Biomedis Tahun Ketiga NUS.
Selain memberikan akses ke ChatGPT Edu, NUS meluncurkan platform AI Sense Maker pada 20 Agustus 2026 yang terhubung dengan lebih dari 150.000 materi perpustakaan digital untuk mendukung riset dan pencarian referensi akademis.