Mengenal Pola Asuh Gummy Bear Mom dan Dampaknya pada Kebiasaan Makan Anak

Share

Tren pengasuhan anak bernama gummy bear mom kini tengah hangat dibicarakan di media sosial. Istilah ini merujuk pada gaya parenting yang memberikan kebebasan lebih luas bagi anak untuk menikmati makanan, termasuk camilan manis.

Pendekatan ini berfokus pada pembentukan kebiasaan makan dan hubungan anak dengan makanan sejak dini. Hal tersebut juga dinilai dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri anak di masa depan, sebagaimana dilansir dari HaiBunda.

Ahli gizi anak Dani Lebovitz menjelaskan bahwa gummy bear mom menggambarkan orang tua yang tidak menerapkan pembatasan makanan secara ketat. Pemberian makanan manis yang biasanya dibatasi ketat justru disajikan lebih fleksibel.

"Mereka cenderung dianggap oleh anak sebagai 'ibu yang seru'. Mereka ingin makanan menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anaknya," ungkap Lebovitz.

Dalam penerapannya, dapur para gummy bear mom kerap dipenuhi stok kudapan manis. Para orang tua ini berupaya secara sadar agar anak tidak membedakan makanan sebagai sesuatu yang 'baik' atau 'buruk'. Langkah ini bertujuan menciptakan hubungan yang sehat dengan makanan tanpa rasa bersalah.

Ciri dan Perbandingan dengan Almond Mom

Seseorang mungkin menerapkan pola asuh ini apabila memiliki beberapa kebiasaan harian tertentu. Ciri-cirinya antara lain selalu menyediakan camilan di tas, sering menyajikan sereal, membebaskan anak mengambil makanan di kulkas, serta menyediakan dapur penuh kudapan.

Saat berbelanja, orang tua tipe ini tidak membatasi keinginan anak secara berlebihan ketika memilih jajanan. Konsep ini bertolak belakang dengan istilah almond mom yang cenderung memperketat asupan serta fokus pada ukuran tubuh anak.

"Meski niatnya baik, tetapi pesan yang diterima anak-anak sering kali adalah bahwa makanan adalah sesuatu yang harus dikendalikan atau ditakuti," imbuh Lebovitz.

Kendati demikian, Lebovitz mengingatkan bahwa istilah seperti almond mom maupun gummy bear mom bukanlah metodologi pengasuhan resmi. Kedua istilah tersebut bersifat samar dan memiliki banyak penafsiran.

Pentingnya Keseimbangan Menurut Ahli

Ahli gizi Lauren Manaker menilai bahwa prinsip keseimbangan tetap memegang peranan penting dalam pola ini. Orang tua perlu mencontohkan bahwa tidak ada jenis makanan yang pada dasarnya buruk.

"Dengan mengizinkan pemberian camilan manis dalam kehidupan sehari-hari, gummy bear mom mencontohkan gagasan bahwa tidak ada makanan yang secara inheren dicap 'buruk'. Anak-anak bisa menikmati segala sesuatu tanpa rasa bersalah, selama diatur dan dilakukan secara seimbang," seru Manaker.

Pelepasan penilaian terhadap makanan membantu anak mendengarkan sinyal lapar alami dari tubuhnya.

"Mereka mulai menyadari apa yang mereka sukai, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana makanan membuat mereka merasakan sesuatu," tutur Lebovitz.

Larangan yang berlebihan pada permen atau makanan manis justru berisiko memicu rasa penasaran berlebih pada anak. Kondisi tersebut berpotensi mendorong anak mengonsumsinya secara sembunyi-sembunyi di kemudian hari.

Tips Menerapkan Pendekatan yang Seimbang

Bagi orang tua yang ingin menerapkan fleksibilitas pola makan pada anak, beberapa langkah praktis berikut dapat dicoba:

Ciptakan lingkungan seimbang tanpa tekanan, di mana makanan bergizi dan camilan sama-sama memiliki porsi. Orang tua dapat mendampingi anak saat menikmati camilan sambil memberikan arahan yang tepat.

Hindari membatasi makanan manis secara berlebihan dan biarkan anak menikmati makanan tanpa komentar mendikte. Memperlakukan camilan sebagai bagian biasa dari makanan membantu anak memercayai sinyal tubuhnya.

"Apabila orang tua memperlakukan dessert sebagai bagian biasa dari makanan, anak belajar mempercayai sinyal tubuh mereka dan berdamai dengan semua jenis makanan," ujar ahli gizi Elizabeth P. Davenport.

Libatkan anak dalam berpetualang dengan makanan, seperti mengunjungi pasar atau memasak bersama untuk memperluas selera makan. Sesuaikan juga topik obrolan gizi dengan usia anak, serta bersabar memberikan paparan makanan baru secara berulang tanpa paksaan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author