LPEM UI Ungkap Penyebab Sarjana Jurusan Favorit Banyak Menganggur
Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memperlihatkan fenomena menarik di pasar kerja. Dilansir dari Detikcom, sejumlah jurusan kuliah favorit justru mendominasi angka pengangguran lulusan S1.
Penelitian bertajuk 'Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?' itu membedah serapan tenaga kerja. Laporan tersebut mengolah data Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2025 rilis BPS.
Berdasarkan studi LPEM FEB UI, ada enam program studi S1 yang paling banyak ditemukan dalam kelompok pengangguran. Jurusan tersebut meliputi manajemen, hukum, ekonomi, pendidikan, akuntansi, serta ilmu komputer.
Keenam program studi favorit tersebut banyak dibuka di kampus negeri maupun swasta seluruh Indonesia. Setiap angkatan baru bahkan menerima kuota mahasiswa yang sangat besar hingga ratusan orang.
Tingginya jumlah lulusan membuat persaingan berburu pekerjaan di pasar kerja menjadi kian ketat. Para sarjana baru harus berebut posisi awal di berbagai instansi maupun perusahaan.
Lulusan rumpun bisnis misalnya, tidak hanya bersaing dengan sesama lulusan bisnis. Mereka juga harus menghadapi pelamar dari jurusan lain seperti hukum, ekonomi, hingga ilmu komunikasi.
Miskonsepsi Masyarakat Soal Jurusan Kuliah
Temuan riset ini mendapat perhatian dari Ketua Departemen Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Manneke Budiman. Ia menilai situasi ini dipicu oleh pandangan keliru di tengah masyarakat.
"Saya pikir karena akibat salah kaprah. Masyarakat itu masih mengira kalau orang belajar manajemen, ilmu hukum, itu udah jaminan kaya," kata Manneke.
Guru Besar Ilmu Susastra tersebut memberikan gambaran nyata mengenai anggapan keliru masyarakat. Publik sering mengira seorang pengacara bakal otomatis mengantongi gaji ratusan dolar per jam.
Padahal realitas di lapangan pekerjaan kerap menunjukkan kondisi yang bertolak belakang. Peluang karier pada posisi tertentu tidak selalu terbuka lebar setiap saat.
"Dan profesi-profesi spesifik seperti hakim, jaksa itu tergantung pada formasi ASN," ujar Manneke.
Menurut Manneke, temuan studi ini dapat mematahkan mitos mengenai keunggulan mutlak jurusan tertentu. Kualifikasi dari jurusan favorit tidak serta-merta menjamin kelancaran karier seseorang di masa depan.
Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa stabilitas ekonomi sangat memengaruhi serapan tenaga kerja. Tidak ada disiplin ilmu yang sepenuhnya aman dari dinamika perekonomian.
"Tdak ada ilmu yang kebal terhadap kondisi ekonomi yang tidak pasti, yang naik turun atau yang cenderung menuju ke arah krisis," tegas Manneke.