Huawei Kembangkan Teknologi LogicFolding Guna Atasi Kesenjangan Chip

Share

Huawei Technologies Co. mengumumkan pengembangan arsitektur baru bernama LogicFolding untuk memproduksi semikonduktor canggih secara mandiri tanpa menggunakan peralatan mutakhir asing. Upaya ini dilakukan guna memperkecil ketertinggalan teknologi dari pemimpin pasar global saat ini, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC).

Langkah strategis tersebut dilansir dari Bloombergtechnoz yang merilis laporan mengenai potensi terobosan besar raksasa teknologi asal China tersebut dalam memproduksi cip berukuran mikro. Saat ini, kemampuan manufaktur Huawei bersama mitranya, Semiconductor Manufacturing International Corp. (SMIC), masih tertinggal sekitar lima tahun dibandingkan TSMC.

Melalui metode penataan transistor teranyar, korporasi yang berbasis di Shenzhen ini menargetkan pemrosesan massal produk chip berspesifikasi 1,4 nanometer (nm) dapat terealisasi pada tahun 2031. Di sisi lain, TSMC telah menjadwalkan produksi massal untuk spesifikasi komponen yang setara mulai tahun 2028.

Teknologi LogicFolding ini direncanakan bakal diadopsi pertama kali oleh prosesor seluler Kirin terbaru pada musim gugur mendatang. Inovasi arsitektur ini bekerja meningkatkan performa perangkat keras lewat penambahan jumlah transistor sekaligus optimalisasi laju transmisi data internal.

"Tahun ini kami telah menyiapkan kejutan bagi seluruh industri. Bukan sekadar stabilisasi, bukan sekadar kelanjutan, melainkan lompatan besar ke depan," kata He Tingbo, Kepala Divisi Semikonduktor Huawei, dalam konferensi cip pada awal pekan ini.

Pengumuman strategi baru ini langsung memicu sentimen positif di pasar saham China pada hari Senin hingga mendorong Indeks Star 50 Shanghai ke rekor tertinggi. Harga saham SMIC dilaporkan melonjak lebih dari 18 persen, sedangkan produsen rekanan lain seperti Hua Hong Semiconductor Ltd. melesat hingga menyentuh batas harian 20 persen.

Keberhasilan produksi massal skala 1,4nm tanpa mesin litografi ultraviolet ekstrim (EUV) dari pemasok Belanda, ASML Holding NV, dinilai menantang konsensus umum industri global. Selama ini mesin EUV dianggap esensial oleh produsen besar seperti TSMC, Samsung Electronics Co., dan Intel Corp. untuk merakit cip berukuran 5nm atau yang lebih mutakhir.

Penskalaan komponen yang dikembangkan Huawei sendiri mengacu pada Hukum Skalabilitas Tau atau prinsip internal yang disebut sebagai "Hukum Her". Konsep penskalaan waktu ini dirumuskan untuk menggantikan Hukum Moore yang dinilai mulai mengalami perlambatan pertumbuhan kapasitas dalam beberapa tahun terakhir.

"Kami melihat time scaling dapat memberikan manfaat signifikan di seluruh perangkat, sirkuit, chip, dan sistem," kata He Tingbo menambahkan bahwa timnya telah memproduksi 381 chip dalam enam tahun terakhir dengan fondasi hukum baru tersebut.

Prinsip teoritis baru dari Huawei ini mendapat perhatian dari pengamat industri karena merangkum beberapa tren mutakhir menjadi sebuah kesatuan konsep formal. Formulasi teori terstruktur ini dianggap sebagai langkah perdana yang krusial bagi ekosistem domestik Tiongkok.

"Hal ini juga dapat menjadi acuan baru bagi industri semikonduktor Tiongkok dalam mengatasi kendala node proses," kata Kitty Fok, direktur pelaksana perusahaan riset IDC China.

Guna merealisasikan metode produksi tanpa mesin EUV, Huawei sebelumnya juga telah mendaftarkan paten terkait teknologi self-aligned quadruple patterning (SAQP). Teknik ini memanfaatkan mekanisme pengukiran garis berulang kali pada wafer silikon demi mendongkrak kepadatan transistor.

Inovasi berkelanjutan ini menempatkan perusahaan berada di garda depan gerakan swasembada teknologi bentukan pemerintah Beijing. Langkah tersebut menjadi respon strategis usai adanya pembatasan akses ekspor global yang dipimpin oleh Amerika Serikat sejak beberapa tahun lalu.

Kemandirian sektor manufaktur cip ini diproyeksikan terus berlanjut lewat implementasi rencana jangka panjang korporasi. Huawei sebelumnya telah menetapkan peta jalan tiga tahun untuk memasok rangkaian cip kecerdasan buatan (AI) domestik guna menggantikan produk dari Nvidia Corp. yang dilarang masuk ke pasar China.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author