Iran Ajukan Syarat Konsesi Sebelum Buka Selat Hormuz
Pemerintah Iran menetapkan sejumlah persyaratan konsesi kepada Amerika Serikat sebelum membuka kembali akses pelayaran komersial di Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan tuntutan tersebut mencakup penghentian blokade pelabuhan, pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset yang dibekukan, hingga pembayaran ganti rugi perang, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Persyaratan ketat dari pihak Iran ini disampaikan di tengah upaya negosiasi maritim dan tekanan ekonomi global yang terus berkembang.
"Pihak AS harus menghentikan dan memperbaiki tindakannya yang ilegal dan merusak," kata Baghaei, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Ia menambahkan bahwa kelanjutan proses pembukaan jalur maritim vital tersebut sepenuhnya bergantung pada pemenuhan syarat-syarat tersebut. Pada Senin (10/8), negosiasi antara Iran dan Oman terkait navigasi diklaim berjalan tanpa kendala teknis berarti.
"Kami telah mencapai kesepakatan mengenai peta jalur pelayaran," kata Baghaei, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Baghaei menjelaskan skema pembahasan juga mencakup navigasi yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim, hingga penanggulangan kejahatan di wilayah perairan tersebut.
Tuntutan dari Teheran langsung mendapatkan penolakan dan respons balasan dari Presiden AS Donald Trump. Pada Senin (10/8), Trump menegaskan bahwa Washington juga bakal menuntut ganti rugi finansial atas dampak konflik yang ditimbulkan Iran.
"Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang mereka timbulkan selama periode 50 tahun," kata Trump, Presiden AS.
Pemerintah Amerika Serikat menilai kewajiban kompensasi tersebut harus mencakup kerugian atas kematian warga sipil dalam aksi demonstrasi serta para personel militer AS di kawasan tersebut.
"Jika ada kerusakan yang harus dibayar, saya pikir Iran harus membayar kerusakan tersebut," kata Trump, Presiden AS.
Trump juga mengklaim bahwa jalur perairan tersebut sebenarnya telah dibersihkan dari potensi bahaya ranjau dan berada dalam kendali pihak AS.
"Ada sedikit kerumitan karena mereka [Iran] terkadang menjatuhkan ranjau, dan kami menemukan ranjau tersebut. Kami telah membersihkan seluruh selat dari ranjau," kata Trump, Presiden AS.
Di samping ketegangan retorika dan klaim penguasaan jalur, AS turut meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran lewat Operation Economic Fury. Kebijakan pembatasan finansial ini berdampak signifikan terhadap penurunan drastis volume ekspor minyak Iran dari 1,8 juta barel menjadi di bawah 500.000 barel per hari.
"Tekanan ekonomi mungkin menjadi bagian dari strateginya, tetapi dia belum menjelaskan tujuannya," kata Nephew, Peneliti Senior Columbia University.
Langkah embargo finansial tersebut memicu berbagai tanggapan dari para pakar kebijakan luar negeri terkait efektivitas jangka panjangnya terhadap peta diplomasi kawasan.
"Pertanyaan utamanya adalah seberapa jauh Amerika Serikat bersedia mempersempit perdagangan minyak Iran dan mengancam negara ketiga dengan sanksi berat," kata Zarate, Mantan Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS.
Hingga saat ini, kondisi di Selat Hormuz masih terpengaruh oleh dinamika geopolitik dan sanksi ekonomi yang berlaku.