PT Pertamina Hulu Energi Kehilangan Potensi Produksi Minyak di Irak

Share

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menderita kehilangan potensi produksi minyak mentah sebesar 100.000 barel per hari (bph) dari aset hulu migasnya di Lapangan West Qurna, Irak, pada kuartal I-2026 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Hambatan operasional ini terjadi setelah adanya permintaan dari pemerintah setempat untuk menghentikan aktivitas menyusul ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Selasa (26/5/2026).

Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Awang Lazuardi menjelaskan situasi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI pada Senin (25/5/2026).

"Beberapa hari setelah perang, Pemerintah Irak meminta lapangan tersebut harus dimatikan. Di situ kita kehilangan sekitar 100.000 barrel oil per day," kata Awang Lazuardi, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi.

Meskipun operasional di Lapangan West Qurna kini sudah mendapatkan izin untuk kembali berjalan, tingkat produksinya dilaporkan belum kembali ke kapasitas optimal. Pihak manajemen menyebutkan bahwa volume produksi saat ini masih dibatasi di bawah 10 persen dari kapasitas normal.

"Sampai sekarang produksi sudah diizinkan, tetapi belum full; kurang dari 10% hanya untuk memenuhi kebutuhan di internal Irak. Jadi belum kembali seperti semula," ujar Awang Lazuardi, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi.

Selain kendala geopolitik di luar negeri, perusahaan juga menghadapi persoalan teknis di dalam negeri, khususnya gangguan rantai pasok gas di Blok Rokan. Masalah integritas berupa kebocoran pada pipa transportasi gas Indonesia yang berlangsung lebih dari 20 hari memicu penurunan tajam pada rata-rata produksi minyak di wilayah kerja tersebut.

"Itu yang menyebabkan rata-rata produksi minyak kita—terutama di Rokan — menurun cukup tajam," kata Awang Lazuardi, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi.

Di samping kendala di Rokan, wilayah kerja Banyu Urip di Blok Cepu, Jawa Timur, yang dikelola bersama ExxonMobil, turut mengalami hambatan peningkatan produksi gas akibat keterbatasan fasilitas yang tersedia. Serangkaian kendala domestik dan internasional ini menyebabkan akumulasi produksi minyak PHE hingga 3 April 2026 tercatat sebesar 475.000 bph, yang terdiri dari produksi domestik 367.000 bph dan internasional 109.000 bph.

Faktor lain yang menekan kinerja industri hulu migas nasional adalah penurunan produksi alamiah (natural decline) yang mencapai laju sekitar 24 persen untuk minyak dan 21 persen untuk gas per tahun. Menanggapi penurunan tersebut, PHE melakukan langkah mitigasi melalui aktivitas operasi masif yang mencakup hampir 900 sumur pengeboran pengembangan, hampir 1.300 kegiatan workover, serta lebih dari 37.000 pekerjaan well intervention.

Strategi jangka panjang juga disiapkan melalui pemaksimalan potensi wilayah kerja baru yang diperoleh pada periode 2022-2025, yaitu Blok Binaiya, Lavender, dan Bobara. PHE menjadwalkan kelanjutan eksplorasi migas nonkonvensional (MNK) di Riau lewat pengeboran 2 hingga 3 sumur, serta pengembangan proyek strategis seperti enhanced oil recovery (EOR), multistage fracturing, hingga implementasi bisnis carbon capture and storage (CCS).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author