Gudang Garam Melemah Tipis pada Sesi Kedua Perdagangan

Share

Harga saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) berbalik melemah pada sesi kedua perdagangan saham Selasa, 11/8/2026. Pada pukul 14.42 WIB, GGRM turun 0,36% menjadi Rp 20.675 per saham, menyusul pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada jam yang sama.

Mengutip data RTI, GGRM dibuka stagnan di Rp 20.750. Saham berada pada rentang harga tertinggi Rp 21.050 dan terendah Rp 20.475, dengan frekuensi perdagangan 2.394 kali dan volume 16.388 saham senilai Rp 34,1 miliar.

Dalam lima hari terakhir, harga GGRM naik 0,86% berdasarkan data Google Finance, sementara pada sesi kedua saham tetap berusaha kembali ke zona hijau setelah sempat melemah pada sesi pertama.

Herditya Wicaksana menilai pergerakan GGRM yang melemah dipengaruhi aksi ambil untung setelah kenaikan yang signifikan.

"Diperkirakan adanya aksi profit taking setelah mengalami kenaikan yang signifikan," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Herditya merekomendasikan wait and see, dengan level support 20.300 dan level resistance 20.950.

Pada perdagangan yang sama, IHSG juga tertekan pada sesi kedua. IHSG turun 1,58% menjadi 6.264, sedangkan indeks saham LQ45 melemah 1,65% ke 623,61, dengan seluruh indeks saham acuan tertekan.

IHSG bergerak pada level tertinggi 6.388,58 dan terendah 6.262,90. Sebanyak 545 saham melemah, 129 saham menguat, dan 113 saham stagnan, dengan total frekuensi perdagangan 1.706.307 kali dan volume 27,7 miliar saham senilai Rp 10,6 triliun.

Direktur PT Gudang Garam Tbk, Istata Taswin Siddharta, menyatakan perseroan menyiapkan berbagai varian baru di segmen sigaret kretek tangan (SKT) sejak 2024 hingga saat ini.

"Kami di tahun 2024 dan sampai sekarang juga masih dalam proses sudah mengeluarkan dan dalam proses untuk memperbesar varian ataupun produk dalam segmen SKT sehingga kita juga bisa berpartisipasi pada demand yang timbul dari orang yang mencari rokok lebih murah," ujar Istata dalam konferensi pers Pubex Live 2025, Kamis (11/9/2025).

Istata menjelaskan perbedaan cukai antara sigaret kretek mesin (SKM) dan SKT makin signifikan, dan sejak 2020 kenaikan cukai pada SKM membuat selisihnya melebar.

"Kalau sampai dengan 2019 mundur ke belakang untuk gambaran cukai SKT itu sedikit lebih besar dari separuhnya SKM untuk jumlah batang yang sama. Contoh, Kalau SKM-nya mungkin ini contoh jadi 10 SKT itu 5,5. Mulai tahun 2024 karena yang meningkat terus itu adalah SKM cukainya SKT itu menjadi hampir sepertiga," jelasnya.

Ia menambahkan cukai yang lebih rendah membuat harga jual SKT tidak perlu terlalu tinggi.

"Tapi yang menjadi masalah sekarang ada lagi SKM tanpa pita cukai ataupun dengan pita cukai yang salah pelekatan dimana mereka itu praktis biayanya nol untuk cukainya," ujarnya.

Istata menyebut keberadaan SKM ilegal membuat konsumen cenderung memilih produk yang lebih murah dibandingkan SKT resmi atau SKM dengan cukai penuh.

"Nah, dengan kondisi seperti ini konsumen tetap akan, kalau bisa mereka akan tetap mencari SKM dengan cukai nol daripada SKT dengan cukai 6.600 apalagi SKM dengan cukai 19 ribu. Itu yang masalah paling besar kami ada," pungkas Istata.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author