Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ungkap Strategi Film Freedom Writers untuk Ciptakan Sekolah Nyaman

Share

Ilmu pengetahuan pada masa kini dapat diperoleh dari berbagai media di luar kelas maupun buku, termasuk melalui karya film yang menyajikan pembelajaran untuk kehidupan sehari-hari.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti nilai-nilai edukasi yang terdapat dalam film lawas berjudul Freedom Writers, seperti dikutip dari Detikcom.

Sinematografi tersebut menggambarkan perjuangan seorang guru muda yang mengajar di kelas yang dipenuhi oleh murid-murid bermasalah di sebuah sekolah Amerika Serikat.

Para siswa di kelas itu tidak hanya melakukan perundungan terhadap sesama teman, tetapi juga berani mengintimidasi guru mereka sendiri.

Menghadapi situasi tersebut, sang pengajar menerapkan sejumlah metode agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan kondusif, yang kini dapat diadaptasi oleh para guru.

1. Menulis Jurnal Bebas

Langkah awal yang diterapkan oleh guru dalam film tersebut adalah menginstruksikan para siswa untuk menulis jurnal harian secara rutin.

Buku harian tersebut berfungsi sebagai wadah untuk menampung seluruh pemikiran, refleksi, serta keinginan para murid setiap harinya.

"Dia minta murid itu untuk menulis jurnal mengenai apa yang ada dalam pikirannya, apa yang ada dalam hatinya, apa yang dia inginkan setiap hari. Murid-murid itu diminta nulis bebas," kata Abdul Mu'ti dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

Setiap jurnal disimpan di dalam loker pribadi siswa, dan guru hanya akan membaca tulisan tersebut jika telah mendapatkan izin langsung dari pemiliknya.

Melalui metode ini, pendidik dapat mengidentifikasi akar penyebab perilaku menyimpang para siswa serta mengetahui ekspektasi mereka terhadap proses pembelajaran.

2. Penegakan Aturan Kelas

Strategi berikutnya yang dijalankan adalah merumuskan regulasi khusus di dalam ruang kelas setelah memahami kondisi psikologis murid.

Peraturan tersebut memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengutarakan pendapat apa saja, namun melarang keras adanya kontak fisik atau tindakan pemukulan.

"Nah dari situ dia mulailah keluar kata-kata yang kata-kata khas anak-anak dari keluarga bermasalah, dari mereka yang memang bermasalah secara sosial," tutur Abdul Mu'ti.

Penyediaan Ruang Aktualisasi Diri bagi Murid

Mendikdasmen menilai bahwa perilaku menyimpang pada anak sering kali dipicu oleh minimnya wadah untuk mengekspresikan diri secara positif.

Ketika pihak sekolah memfasilitasi ruang tersebut, karakter dan tindakan para siswa yang semula dicap bermasalah lambat laun akan menunjukkan perubahan positif.

"Selama ini mereka tidak punya ruang untuk mengekspresikan, ruang berekspresinya tidak ada, tidak terbuka, dan kalau dia mengekspresikan dia berhadapan dengan sanksi atau mungkin label-label yang membuat mereka semakin tidak nyaman di situ. Kadang-kadang label itu disampaikan atas nama pendidikan," ujar Abdul Mu'ti.

Penyediaan lingkungan belajar yang suportif membuat anak-anak merasa didengar, sehingga aturan yang disepakati bersama mampu mencetak generasi yang berprestasi.

"Ini film semi dokumenter artinya bisa (kisah) nyata, difilmkan dan akhirnya itu menjadi cara dan karena itulah kenapa judulnya menjadi Freedom Writer, orang yang bebas menulis. Nah ruang-ruang aktualisasi itu adalah bagian dari bagaimana kita membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman," ucap Abdul Mu'ti.

Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Penggunaan istilah 'budaya' dalam regulasi ini bertujuan untuk menyelaraskan arah pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

"Kalau kita baca dalam Undang-Undang Sisdiknas tujuannya kan membangun budaya dan karakter yang disitu ada mindset, ada value, dan kemudian ada behavior. Perilaku itu adalah perilaku yang tidak hanya bersifat individual tapi juga harus bersifat kolektif," kata Abdul Mu'ti.

Permendikdasmen 6/2026 menerapkan pendekatan humanis yang memanusiakan serta memuliakan setiap peserta didik sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.

Kebijakan ini tidak hanya mengatur ekosistem di internal sekolah, tetapi juga mencakup pola komunikasi antara orang tua dengan guru, serta interaksi antara lembaga pendidikan dengan masyarakat luas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author