Mengenal Gejala Kanker Endometrium dan Faktor Risikonya

Share

Kanker endometrium merupakan jenis kanker ginekologi yang berasal dari lapisan dalam rahim. Kasus penyakit ini tercatat terus mengalami peningkatan secara global, terutama pada wanita yang telah memasuki masa menopause.

Kabar baiknya, sebagian besar penderita dapat menemukan penyakit ini pada stadium awal. Hal tersebut membuat peluang kesembuhan menjadi jauh lebih tinggi jika segera ditangani secara medis.

Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi dari RS St Carolus, dr. Muhammad Farhan Djamal Hasan, Sp.O.G, Subsp. Onk, memberikan penjelasannya terkait kondisi ini seperti dikutip dari Detik Health.

"Endometrium adalah lapisan dalam rahim yang setiap bulan menebal dan luruh saat menstruasi serta tempat menempel janin saat hamil. Kanker endometrium terjadi ketika sel di lapisan ini tumbuh tidak terkendali," ujar dr. Muhammad Farhan dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).

Meskipun dapat dialami siapa saja, potensi terjadinya kanker endometrium meningkat pada beberapa kondisi tertentu. Risiko lebih tinggi dialami wanita berusia di atas 50 tahun, mengalami obesitas, diabetes, atau hipertensi.

Faktor lain mencakup riwayat tidak pernah hamil, menstruasi dini, menopause terlambat, PCOS, penggunaan hormon estrogen tanpa progesteron, konsumsi tamoxifen, serta riwayat keluarga dengan kanker rahim, ovarium, atau sindrom Lynch.

Tanda paling khas dari penyakit ini adalah perdarahan vagina yang tidak normal. Gejala tersebut sering kali sudah tampak sejak penyakit berada pada tingkat stadium awal.

Beberapa tanda mencakup perdarahan usai menopause, menstruasi lebih banyak atau lama, bercak di luar siklus, keputihan berdarah, nyeri panggul, sakit saat berhubungan seksual, hingga penurunan berat badan tanpa sebab.

Perdarahan yang muncul setelah masa menopause bukanlah hal wajar. Oleh karena itu, pemeriksaan ke dokter sangat dianjurkan untuk memastikan penyebab utamanya.

Metode Diagnosis dan Pilihan Pengobatan

Proses diagnosis diawali lewat wawancara medis dan pemeriksaan kandungan. Jika ada kecurigaan, dokter akan merekomendasikan USG transvaginal, histeroskopi, CT scan, MRI, atau pengambilan sampel jaringan melalui biopsi endometrium.

Pilihan terapi medis akan disesuaikan dengan tingkat stadium, jenis sel kanker, dan kondisi kesehatan pasien. Tindakan pembedahan berupa pengangkatan rahim (histerektomi) yang disertai pengangkatan indung telur serta saluran telur kerap menjadi langkah utama.

Selain operasi, pasien dapat menjalani radioterapi untuk membunuh sel kanker, atau kemoterapi bila kondisi telah memasuki stadium lanjut maupun menyebar. Terapi hormonal serta targeted therapy juga dapat diberikan sesuai karakteristik kanker pasien.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author