Mendiktisaintek Soroti Angka Depresi Remaja Indonesia Capai 2 Persen
Kondisi kesehatan mental generasi muda kini menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa remaja merupakan kelompok paling rentan yang mengalami depresi di Indonesia.
Seperti dikutip dari Detikcom, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan prevalensi depresi secara nasional berada di angka 1,4 persen. Namun, angka tersebut melonjak pada kelompok rentan usia muda.
Berdasarkan survei tersebut, tingkat depresi pada remaja kelompok usia 15 hingga 24 tahun tercatat mencapai 2 persen. Sayangnya, mayoritas dari mereka belum tersentuh penanganan medis secara memadai.
Dari total 2 persen remaja yang mengalami depresi, tercatat hanya 10,4 persen di antaranya yang berupaya mencari atau mendapatkan pengobatan medis.
"Nah kalau dipilah menurut kelompok umur, yang tertinggi ada pada kelompok 15 sampai 24 tahun itu ada 2%, dan dari 2% itu yang berusaha mencari pengobatan itu hanya 10%," tutur Brian.
Pernyataan tersebut disampaikan Brian dalam acara Seminar Nasional yang digelar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh lagi menganggap sepele persoalan depresi maupun kecemasan. Kesadaran terhadap kondisi ini sangat vital mengingat anak muda merupakan penopang utama masa depan bangsa.
"Jadi ini adalah satu kondisi yang perlu kita tentunya aware ya, karena ini (anak usia 15-24 tahun) adalah masa depan bangsa kita.Tulang punggung Indonesia itu ada di para generasi muda ini," imbuhnya.
Guna mengatasi hambatan tersebut, informasi seputar kesehatan mental perlu didiseminasikan secara masif agar tidak lagi dianggap tabu. Langkah edukasi ini dipelopori oleh Fakultas Psikologi UI bekerja sama dengan Asosiasi Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).
Melalui seminar bertema "Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat", kalangan akademisi dan praktisi diharapkan mampu merumuskan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
"Semoga seminar ini bisa menghasilkan karya-karya yang dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa kita, dan juga untuk memberikan semangat yang lebih besar pada bangsa kita," pesan Brian.
Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Psikologi UI sekaligus Ketua Panitia, Dicky C Pelupessy, menyoroti adanya jarak antara tingginya kebutuhan layanan kesehatan mental dengan ketersediaan tenaga ahli.
Untuk memangkas kesenjangan tersebut, formulasi pengaturan kualifikasi psikolog perlu segera disempurnakan. Penempatan tenaga psikolog di fasilitas primer seperti Puskesmas menjadi krusial agar jangkauan layanan yang aman dan bermutu dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.