Trump Dekati Kesepakatan dengan Iran Selat Hormuz Bakal Dibuka
Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dilaporkan semakin dekat untuk mencapai kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, yang juga mencakup rencana pembukaan kembali jalur perairan strategis Selat Hormuz pada Mei 2026.
Langkah diplomasi Washington ini memicu kekhawatiran mendalam di Tel Aviv setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui kesulitan dalam mempengaruhi keputusan politik Trump terkait konflik di Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Detikcom yang mengutip laporan CNN dan Axios.
Melalui media sosial Truth Social, Trump mengonfirmasi bahwa rancangan perjanjian tersebut sudah memasuki tahap finalisasi oleh pihak-pihak terkait.
"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain," tulis Trump di Truth Social.
Sebelum pengumuman tersebut, Trump menyatakan dirinya telah menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin di Timur Tengah, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dan Raja Yordania Abdullah. Dia menegaskan bahwa hasil kesepakatan ini akan segera dipublikasikan dalam waktu dekat.
"Selain banyak elemen lain dari perjanjian tersebut, Selat Hormuz akan dibuka," tulis Trump.
Di sisi lain, media lokal Israel yang dikutip melalui Anadolu Agency melaporkan bahwa Netanyahu mengutarakan kecemasannya secara tertutup dalam serangkaian diskusi internal pemerintah. Berdasarkan laporan saluran televisi Israel Channel 13 dari sumber politik anonim, Netanyahu mengeluhkan sempitnya ruang diplomasi Tel Aviv saat ini terhadap kebijakan luar negeri AS.
Institusi keamanan Israel kini dalam kondisi siaga tinggi karena khawatir kesepakatan tersebut akan melonggarkan tekanan ekonomi serta membiarkan infrastruktur nuklir dan jaringan proksi Iran tetap beroperasi. Hingga kini, Kabinet Keamanan Israel dilaporkan terus menggelar rapat intensif guna merespons pergerakan diplomasi antara Washington dan Teheran tersebut.