Iran Peringatkan Negara Teluk Tak Bantu Militer Amerika Serikat
Angkatan Bersenjata Iran memberikan peringatan keras kepada negara-negara kawasan Teluk agar tidak memfasilitasi atau membantu militer Amerika Serikat. Penegasan ini muncul seiring eskalasi konflik regional dan keputusan Uni Emirat Arab memutus hubungan ekonomi dengan Teheran, seperti dilansir dari Detikcom pada Kamis (20/8/2026).
Eskalasi pertikaian dilaporkan meluas sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap kawasan Iran pecah pada 28 Februari lalu. Situasi kian memanas setelah pangkalan serta aset militer AS yang tersebar di wilayah Teluk mendapat serangan balasan berupa gelombang rudal dan drone dari Teheran.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi menegaskan posisi negaranya terhadap setiap tindakan yang mendukung operasi militer AS di wilayah tersebut.
"Kami memperingatkan bahwa segala bentuk bantuan atau fasilitas yang diberikan kepada militer AS, yang bertindak sebagai agresor, akan dianggap sebagai keterlibatan bersama pasukan AS," tegas Abdollahi dalam peringatannya, seperti dikutip kantor berita Mehr.
Melalui unggahan di media sosial X, Abdollahi mengkritik negara-negara pesisir Teluk yang mengklaim tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menggempur Iran. Ia meragukan ketidaktahuan negara penerima markas militer terhadap pergerakan armada Washington.
"seharusnya mengetahui bahwa tidak ada satu pun hal yang luput dari pengamatan kami," kata Abdollahi.
Abdollahi menilai koordinasi penerbangan militer berkapasitas besar sulit dilakukan tanpa izin otoritas setempat.
"Kecil kemungkinannya bahwa pesawat militer dalam jumlah besar, terutama pesawat pengisi bahan bakar, bisa berada di pangkalan-pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara tuan rumah," kata Abdollahi dalam pernyataannya.
Ketegangan diplomatik ini meruncing pascatuduhan UEA pada Selasa (18/8) mengenai penembakan dua rudal balistik Iran ke kapal-kapal mereka di lepas pantai, yang langsung direspons Abu Dhabi dengan menghentikan seluruh kerja sama ekonomi. Sejumlah media mencatat Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain turut membalas menyerang target di Iran.
Pihak Teheran membantah tuduhan serangan terhadap kapal-kapal UEA tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan bantahan resmi pemerintah atas tuduhan itu.
Esmaeil Baghaei menyatakan "dengan tegas menolak klaim Uni Emirat Arab bahwa Iran telah meluncurkan rudal ke arah negara itu".
Baghaei menambahkan bahwa tuduhan sepihak dari UEA berpotensi merusak tingkat kepercayaan serta upaya menjaga stabilitas keamanan di kawasan.