Mojtaba Khamenei Tunjuk Enam Petinggi Militer Baru Iran
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei merombak jajaran pimpinan angkatan bersenjata dengan menunjuk Mayor Jenderal Ali Abdollahi sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata dan Ahmad Vahidi sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui dekrit resmi.
Langkah perombakan struktur militer yang melibatkan enam petinggi baru tersebut mempertegas kendali penuh Mojtaba atas pertahanan negara, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Selasa (11/8/2026).
Ali Abdollahi menggantikan Abdolrahim Mousavi yang gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Sebelum penunjukan ini, Abdollahi memimpin komando operasional gabungan Khatam al-Anbiya.
"Mayor Jenderal Ali Abdollahi telah ditunjuk sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata," demikian pengumuman resmi dari situs web Mojtaba pada Senin (10/8).
Saat memimpin komando operasional masa perang, Abdollahi sempat memeringatkan negara-negara tetangga agar tidak membantu pihak lawan dalam konflik regional.
"negara mana pun yang menjadi tameng pertahanan bagi Amerika yang kriminal dan agresif, akan dilalap oleh kobaran api perang," ujar Ali Abdollahi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran.
Mantan komandan Angkatan Darat Kioumars Heydari menduduki posisi Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Sementara itu, Ahmad Vahidi yang naik pangkat menjadi Mayor Jenderal mengisi posisi Panglima IRGC menggantikan Mohammad Pakpour yang juga gugur.
"Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi juga telah ditunjuk sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam dengan pangkat Mayor Jenderal," sebut pengumuman resmi tersebut.
Jajaran pimpinan IRGC lainnya turut diisi oleh Mostafa Izadi sebagai Wakil Panglima IRGC, Laksamana Muda Ali Azmaei sebagai Komandan Angkatan Laut IRGC menggantikan Alireza Tangsiri, serta Hossein Taeb sebagai Komandan Pasukan Paramiliter Basij.
Penunjukan ini meresmikan struktur kepemimpinan masa perang yang sempat berjalan tanpa dekrit sejak Mojtaba menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, sementara beberapa posisi intelijen masih dibiarkan kosong tanpa pimpinan permanen.