The Sounds Project Minta Maaf Atas Promosi Miras Berunsur Agama

Share

Penyelenggara festival musik The Sounds Project menyampaikan permohonan maaf dan kecaman terbuka terkait aksi promosi minuman beralkohol yang memanfaatkan hafalan surat Ad-Dhuha di area pameran acara pada Selasa (11/8/2026).

Insiden tersebut terjadi di booth sponsor Newport pada 9 Agustus 2026, di mana penyelenggara menegaskan kegiatan tersebut berlangsung sepenuhnya di luar pengetahuan, arahan, maupun persetujuan pihak panitia.

Pihak penyelenggara menyatakan kekecewaan mendalam serta menegaskan komitmen untuk menjaga nilai penghormatan terhadap agama dan keyakinan seluruh pengunjung acara.

"Melalui pesan ini, kami ingin menyampaikan sikap resmi terkait beredarnya video dan unggahan mengenai kejadian di salah satu booth sponsor, yakni Newport, dalam penyelenggaraan acara pada tanggal 9 Agustus 2026," tulis pernyataan resmi The Sounds Project.

Panitia mengeklaim butuh investigasi mendalam sebelum merilis konfirmasi resmi ke publik guna memastikan fakta di lapangan secara konsisten.

"Kami membutuhkan waktu untuk sampai pada pernyataan ini. Kejadian tersebut melibatkan banyak pihak dan harus kami pastikan kebenarannya, agar langkah yang kami ambil dapat dipertanggungjawabkan," kata pihak The Sounds Project.

Penyelenggara menekankan ketidaktoleransian terhadap segala bentuk tindakan yang berbau penistaan agama dalam lingkup kegiatan mereka.

"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apapun," ujar pihak penyelenggara.

Pihak panitia kembali menegaskan posisi institusional mereka atas kontrol kegiatan mitra di lapangan.

"Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara," kata pihak The Sounds Project.

Sikap tegas terhadap kebebasan beragama dan penolakan isu SARA juga disampaikan secara mendasar.

"Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, menoleransi bentuk penistaan agama atau tindakan yang menyinggung SARA oleh pihak manapun yang beraktivitas di area acara kami, termasuk sponsor dan mitra kerja sama," tutur pihak panitia.

Sebagai bentuk tindak lanjut, penyelenggara merumuskan tiga langkah evaluasi dan penanganan teknis bersama pihak terkait.

"Berikut langkah konkret yang kami lakukan: 1. Kami telah menegur pihak sponsor terkait dna meminta mereka untuk menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. 2. Kami melakukan pengawalan ketat agar pihak sponsor segera mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat langsung pada insiden tersebut untuk dapat dipertanggungjawabkan secara penuh. 3. Kami melakukan evaluasi internal untuk memastikan kejadian serupa tidak akan terjadi lagi dalam penyelenggaraan acara selanjutnya," jelas penyelenggara.

Pernyataan tersebut ditutup dengan penegasan atas prinsip utama yang dipegang oleh pihak manajemen festival.

"Rasa hormat terhadap agama dan keyakinan seluruh audiens adalah nilai yang kami pegang teguh sebagai penyelenggara dan tidak ada toleransi untuk pelanggaran terhadap nilai tersebut," kata pihak The Sounds Project.

Kasus ini mengemuka setelah seorang pengunjung dengan akun media sosial @jarrkojarr merekam dan membagikan pengalaman buruknya saat menyaksikan tantangan hafalan ayat suci Alquran berhadiah minuman keras di lokasi acara.

"Lagi selingan nunggu Hindia manggung, booth sebelah bikin challange “siapa yang hafal surah Ad-Duha dapet satu botol”. Kalian becanda? Menurut gua kalian ga punya etika dan adab, lo jualan minuman tapi Al Qur’an lo jadiin challenge, dan dikasih 1 botol lagi. Sakit," kata akun @jarrkojarr.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author