BNPB Ungkap Kendala Pemadaman Karhutla Bromo Capai 520 Hektare

Share

Hambatan cuaca menjadi pemicu utama tersendatnya penanganan kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Gunung Bromo hingga membakar area seluas 520 hektare. Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto pada Selasa, 11 Agustus 2026, seperti dilansir dari Detikcom.

Awan tebal di sekitar Ranu Kumbolo menutup akses pergerakan helikopter menuju lokasi kobaran api di area pegunungan tersebut.

"Kendala utama yang dihadapi di lapangan, khusus operasi udara adalah faktor cuaca tutupan awan di lembah sumber air di Ranu Kumbolo hingga jalur terbang menuju titik api di ketinggian Gunung Bromo. Hal ini mengamibatkan opersi udara tidak bisa dilakukan secara kontinu," kata Suharyanto, Kepala BNPB Letjen TNI.

Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca juga belum dapat direalisasikan akibat kondisi massa awan yang belum ideal.

"Menurut informasi dan analisis cuaca dari BMKG, upaya melalui OMC saat ini belum bisa dilakukan karena massa awan di atas Gunung Bromo belum mendukung. Namun jika ada perkembangan massa awan akan segera ditindaklanjuti," ucap Suharyanto, Kepala BNPB Letjen TNI.

Penanganan titik api di lokasi bencana sudah berlangsung sejak Minggu, 9 Agustus 2026, dan saat ini secara umum dapat dikendalikan.

"Hingga saat ini kebakaran lahan sudah dapat dipadamkan, tinggal 1 titik asap yang masih terpantau di tebing P 30 Kabupaten Probolinggo dan 1 titik api di Wonomitri Kabupaten Pasuruan," ujar Suharyanto, Kepala BNPB Letjen TNI.

Langkah penanggulangan terus dioptimalkan lewat pengerahan tiga helikopter penyiram air serta koordinasi tim darat.

"Upaya yang dilakukan saat ini masih terus dilakukan melalui water bombing dan opersi satgas darat," imbuh Suharyanto, Kepala BNPB Letjen TNI.

Kobaran api melalap vegetasi rumput kering hingga tanaman edelweiss di kawasan pegunungan tersebut. Tim gabungan menerjunkan ratusan personel, tujuh unit mobil pemadam, serta tiga unit drone penyiram air guna menembus area sulit.

Koordinasi taktis telah dipimpin langsung oleh pihak pemerintah daerah sejak Minggu pagi untuk menahan laju persebaran api.

"Kendala kita saat ini memang keterbatasan alat manual. Ada titik panas yang masih tersisa, api kecil itu memang harus manual. Yang besar ditangani menggunakan helikopter," ujar Emil, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author