Gelombang Panas dan Cuaca Ekstrem Terjang Wilayah New York

Share

Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat memperpanjang peringatan suhu panas ekstrem dan potensi badai parah yang melanda kawasan New York City serta Long Island hingga pekan kedua Agustus 2026. Temperatur udara diperkirakan melonjak melebihi 32 derajat Celsius dengan indeks panas mencapai 35 hingga 37 derajat Celsius akibat kelembapan udara yang sangat tinggi.

Kondisi cuaca menyengat ini turut meningkatkan risiko badai petir lokal, angin kencang hingga 96 kilometer per jam, serta ancaman banjir bandang di wilayah Capital Region dan sekitarnya. Sebaliknya, wilayah barat New York seperti Buffalo mengalami cuaca yang lebih sejuk setelah diterjang front dingin.

Pemerintah Kota New York merespons situasi ini dengan mengaktifkan rencana darurat panas dan banjir. Wali Kota Zohran Mamdani memobilisasi jajaran dinas untuk membuka ratusan pusat pendinginan warga, mengerahkan armada layanan kesehatan darurat, serta memperpanjang jam operasional fasilitas publik.

Ahli meteorologi dari kantor Upton, James Tomasini, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai bahaya paparan panas berulang yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

"Hari Senin juga akan menjadi hari yang serupa. Kondisinya akan terasa hangat dan lembap di luar … Dengan peluang hujan dan badai petir yang lebih besar," ujar James Tomasini, meteorolog Layanan Cuaca Nasional.

Ia mengingatkan para pekerja di luar ruangan untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga cairan tubuh secara berkala selama beraktivitas.

"Tetap terhidrasi, dan jika Anda melakukan kegiatan aktif, beristirahatlah di area yang teduh jika memungkinkan. Panas ini telah berlangsung selama beberapa hari, jadi sangat penting untuk tetap terhidrasi," kata James Tomasini, meteorolog Layanan Cuaca Nasional.

Kondisi kelembapan yang menembus angka 70 persen turut memicu risiko kepanasan hebat karena menghambat proses alami pendinginan tubuh melalui keringat.

"Selalu tanggapi peringatan cuaca panas secara serius. Anda harus tetap terhidrasi dan berada di lokasi berpendingin udara," ujar Brian Ciemnecki, meteorolog Layanan Cuaca Nasional.

Ia menekankan bahwa efek kelembapan tinggi ini membuat atmosfer kota terasa sangat tidak nyaman bagi warga yang beraktivitas di luar gedung.

"Ini akan sangat pengap. Ini akan menjadi sangat, sangat, sangat lengket, sangat lembap hingga hari Minggu," kata Brian Ciemnecki, meteorolog Layanan Cuaca Nasional.

Penurunan suhu hingga kisaran 20-an derajat Celsius diproyeksikan baru akan terjadi pada pertengahan pekan seiring datangnya massa udara dingin baru.

"Kapan saja Anda mengalami kondisi panas dan lembap, tetaplah sejuk dan terhidrasi. Jika Anda tidak memiliki pendingin udara, Anda harus pergi ke pusat-pusat pendinginan," ujar Brian Ciemnecki, meteorolog Layanan Cuaca Nasional.

Di tingkat pemerintah daerah, kesiapsiagaan ditingkatkan untuk mengantisipasi peningkatan angka kematian akibat efek cuaca panas ekstrem yang saban tahun menelan sekitar 500 korban jiwa di New York.

"Pemerintah kota memobilisasi setiap sumber daya yang kami miliki – mulai dari membersihkan penampung air dan menyiapkan tim darurat hingga mengirimkan armada COOL untuk memeriksa warga lanjut usia. Melindungi warga New York berarti hadir sebelum badai, bukan hanya setelahnya," kata Zohran Mamdani, Wali Kota New York City.

Pemerintah Kota New York mengimbau warga di apartemen lantai bawah tanah untuk menyiapkan evakuasi mandiri bila terjadi banjir mendadak, serta menghubungi saluran darurat 911 jika terjebak air.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author