Kemenkeu Beberkan Profil Investor yang Cocok Membeli SBN Ritel

Share

Kementerian Keuangan menyebut penempatan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) ritel fleksibel bagi berbagai kalangan investor. Instrumen yang dijamin negara ini ramah bagi pemula maupun pemodal berpengalaman. SBN ritel menyasar masyarakat yang memerlukan instrumen berisiko relatif rendah dengan pendapatan bulanan rutin.

Selain dijamin pemerintah, daya tarik utama investasi ini terletak pada insentif pajak penghasilan (PPh) sebesar 10 persen, lebih rendah dibanding PPh deposito yang mencapai 20 persen. Kemenkeu mencatat modal awal pembelian instrumen ini sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp1 juta secara daring. Sepanjang 2025, pemerintah merilis delapan seri SBN ritel senilai Rp153 triliun yang menjangkau 429.164 pemodal dari beragam latar belakang profesi.

Meski memiliki risiko gagal bayar yang dinilai nihil, produk yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder seperti ORI dan Sukuk Ritel (SR) tetap memiliki risiko harga. Penjualan sebelum jatuh tempo berpotensi memicu kerugian modal jika suku bunga pasar sedang mengalami kenaikan.

Instrumen berjenis SR dan ORI menawarkan pembayaran imbal hasil tetap setiap bulan hingga masa tenor berakhir. Pada penerbitan seri SR024 di awal tahun 2026, pemerintah mematok kupon 5,55 persen untuk tenor tiga tahun dan 5,90 persen untuk tenor lima tahun dengan total dana terhimpun Rp17,49 triliun. Pemerintah menyarankan masyarakat mengalokasikan dana yang tidak terpakai untuk kebutuhan jangka pendek saat membeli SBN ritel. Seri tidak terdaftar di pasar sekunder seperti SBR dan ST juga menyediakan fasilitas pelunasan awal bagi investor.

Untuk seri syariah berikutnya, pemerintah dijadwalkan membuka penawaran Sukuk Ritel seri SR025 pada 21 Agustus hingga 16 September 2026 secara tentatif. Penerbitan SR025 akan menggunakan akad syariah dengan jaminan Barang Milik Negara serta proyek APBN 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author