Keluarga Sutrimo mempertanyakan pemulangan jenazah tanpa formulir

Share

Keluarga Sutrimo, warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, mempertanyakan proses pemulangan jenazah setelah sejumlah dokumen dan barang pribadi tidak sesuai dengan informasi awal dari pengantar jenazah. Kuasa hukum keluarga Aan Rohaeni menyebut keluarga baru menemukan formulir kronologi yang tak pernah diserahkan.

Jenazah Sutrimo ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mulut berbusa di depan klinik kecantikan Mordent di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (23/7). Keluarga menerima jenazah dalam kondisi sudah dikafani sehingga tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan, dan Sutrimo langsung dipulangkan serta dimakamkan pada hari yang sama.

Aan Rohaeni mengatakan, "Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan Rohaeni.

Aan juga menyebut keluarga mengetahui Sutrimo memiliki riwayat penyakit gula dan mendapat informasi kadar gula darah Sutrimo mencapai 600, sehingga kematian dinilai wajar. Ia menambahkan keluarga diberi penjelasan bahwa ponsel dan barang pribadi Sutrimo akan dikirimkan menyusul pada hari berikutnya.

Aan Rohaeni mengatakan, "Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujar Aan Rohaeni.

Beberapa hari setelah pemakaman, keluarga kemudian mendapat pemberitaan yang membuat mereka mulai mempertanyakan apa yang terjadi. Aan mengatakan keluarga berada dalam posisi dilematis karena khawatir menghadapi perkara yang mereka nilai melibatkan tokoh besar.

Aan Rohaeni mengatakan, "Beberapa hari kemudian kan ada berita dan lain-lain. Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada sih," ucap Aan Rohaeni.

Selain itu, kecurigaan keluarga bertambah setelah barang pribadi milik Sutrimo tak kunjung dikembalikan. Aan menyebut ponsel dan dompet tidak kembali sebagaimana informasi awal.

Aan Rohaeni mengatakan, "Setelah kita lihat belakangan, HP nggak pulang-pulang. Dompet nggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan Rohaeni.

Aan juga mempertanyakan orang yang mengantarkan jenazah karena nomor teleponnya sebelumnya masih dapat dihubungi, tetapi kemudian tidak aktif. Ia menambahkan keluarga memiliki keterbatasan finansial dan mempertimbangkan kondisi emosional ibu Sutrimo.

Aan Rohaeni mengatakan, "Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata dia.

Menurut Aan, persoalan lain muncul setelah ia memperoleh dokumen yang disebut berkaitan dengan kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal. Ia mengaku terkejut karena dokumen itu mencantumkan busa yang keluar dari mulut dan hidung Sutrimo.

Aan Rohaeni mengatakan, "Saya kaget, nggak ada loh. Kita nggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan," katanya.

Aan menyebut formulir kronologi itu tidak pernah disampaikan kepada pihak keluarga saat jenazah dipulangkan, sehingga mereka menilai pengantar menyembunyikan dokumen tersebut. Ia juga menyampaikan terdapat kesamaan tanda tangan pada formulir yang diperoleh dan dokumen yang dimiliki keluarga.

Aan Rohaeni mengatakan, "Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan Rohaeni.

Aan Rohaeni mengatakan, "Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan yang ada di kami," ungkapnya.

Keluarga kemudian menilai ada alasan untuk mempertanyakan proses pemulangan jenazah Sutrimo, termasuk mengapa formulir kronologis tidak ikut diserahkan kepada keluarga, berdasarkan temuan Aan dan dokumen yang ia peroleh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author