Netanyahu Tolak Rencana Perdamaian Trump untuk Gaza
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana perdamaian 15 poin yang diajukan Presiden AS Donald Trump untuk Gaza pada Minggu (09/08), dengan alasan pasukannya tidak akan mundur sampai Hamas benar-benar dilucuti senjata.
Netanyahu mengatakan militer Israel "tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai senjata Hamas benar-benar dilucuti," termasuk senjata berat dan ringan. Meski keberatan, Netanyahu menyatakan masih melakukan dialog dengan Washington.
Trump sebelumnya mengumumkan rencana perdamaian yang menyepakati mundurnya pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas, serta penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional dan polisi Palestina di Gaza. Hamas setuju menyerahkan senjatanya kepada administrasi teknokratik Palestina yang didukung AS.
Bassem Naim dari Hamas berharap Amerika Serikat menekan Netanyahu agar mematuhi rencana tersebut dan tidak menghalangi proses karena alasan politik dalam negeri. Hamas tetap berkomitmen pada rencana perdamaian tersebut.
Nickolay Mladenov dari Board of Peace menyatakan Israel tidak berkewajiban mundur sampai Hamas menyerahkan senjatanya, namun militer Israel harus mundur "sektor demi sektor" setelah senjata dinonaktifkan. Ia menyebut ini sebagai "pilihan satu-satunya" untuk menghindari tragedi serangan Hamas pada Oktober 2023.
Ketegangan politik meningkat menjelang pemilu Israel 27 Oktober 2026, dengan Netanyahu menghadapi tekanan dari sayap kanan ekstrem yang menolak konsesi kepada Hamas. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mendukung sikap Netanyahu dan menegaskan tujuan utama perang adalah menghancurkan Hamas.
Rencana perdamaian ini didasarkan pada gencatan senjata yang dimediasi AS sejak Oktober 2025. Otoritas kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 1.250 warga Palestina tewas akibat serangan Israel, sementara militer Israel menyatakan lima tentaranya tewas. Pasukan Israel masih menguasai sebagian besar Gaza, dengan sebagian besar penduduk mengungsi ke wilayah kecil dengan kondisi terbatas, dilansir dari Detikcom.