BMKG Catat Dua Gempa Guncang Wilayah Sulawesi Utara
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan dua aktivitas gempa bumi mengguncang wilayah Sulawesi Utara secara beruntun dengan kekuatan magnitudo 4,8 di Bitung dan magnitudo 5,0 di Melonguane pada 24 dan 25 Mei 2026.
Peristiwa pertama melanda kawasan Bitung pada hari Minggu (24/5/2026) pukul 22.33 WIB, disusul guncangan kedua di timur laut Melonguane pada hari Senin (25/5/2026) pukul 09.32 WIB. Kedua gempa dipastikan tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Guncangan di Bitung berpusat di laut pada jarak 125 kilometer arah tenggara dengan kedalaman mencapai 22 kilometer. Titik koordinat gempa tersebut berada pada 0,98 Lintang Utara dan 126,15 Bujur Timur.
"Pusat gempa berada di laut 125 km Tenggara Bitung dan gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat." tulis BMKG melalui website resminya.
Getaran gempa ini terukur dengan skala MMI II hingga III di wilayah Manado, Bitung, dan Minahasa. Menurut catatan BMKG, skala II menandakan bahwa getaran tidak dirasakan atau hanya dirasakan oleh beberapa orang namun berhasil terekam oleh alat pemantau.
Secara keseluruhan, lembaga pemantau cuaca dan kegempaan ini mencatat telah terjadi 19 kali aktivitas gempa signifikan yang dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir dengan variasi kekuatan serta kedalaman berbeda.
Sementara itu, gempa berikutnya yang berkekuatan magnitudo 5,0 di Melonguane berlokasi di titik koordinat 8,06 Lintang Utara dan 127,05 Bujur Timur. Pusat getaran berada pada jarak 453 kilometer arah timur laut Melonguane dengan kedalaman 35 kilometer.
"Gempa Mag:5.0, 25-May-2026 09:32:40WIB, Lok:8.06LU, 127.05BT (453 km TimurLaut MELONGUANE-SULUT), Kedlmn:35 Km," tulis BMKG dikutip melalui iNews.id.
Hingga saat ini, dampak kerusakan maupun korban akibat guncangan di Melonguane belum dapat dipastikan secara menyeluruh. Pihak berwenang masih melakukan pemrosesan data lebih lanjut terkait peristiwa tektonik tersebut.
"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG.