Presiden Iran Tegaskan Keterbukaan Perundingan dengan AS Bukan Ketundukan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi komitmen Teheran untuk menempuh jalur perundingan dengan Amerika Serikat tanpa mengorbankan kedaulatan negara. Penegasan diplomasi tersebut disampaikan Pezeshkian dalam konferensi pers di Teheran pada Sabtu, 8 Agustus 2026, menyusul pembicaraan strategis dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.
Pezeshkian menilai situasi geopolitik pascakonflik bersenjata menjadi momentum paling tepat bagi kedua negara untuk berunding. Posisi tawar Teheran dinilainya sangat kuat berkat soliditas domestik serta Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani Iran dan Amerika Serikat pada Juni lalu.
"Ketika orang berbicara tentang mencapai kesepakatan, saya percaya sekarang adalah waktu terbaik karena negara ini tetap bersatu, kuat, dan kompak. Sejauh yang saya ketahui, Iran dianggap telah keluar dari perang dan konflik ini sebagai pihak yang menang dan kuat," ujar Pezeshkian, dikutip dari Middle East Monitor.
Ia menekankan bahwa konflik bersenjata berkepanjangan tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah kedua negara.
"Persoalan tidak dapat diselesaikan hanya melalui perang. Kami berusaha menuju perdamaian berdasarkan ketentuan dalam nota kesepahaman tersebut," tambahnya.
Meskipun mengedepankan diplomasi, Pezeshkian menegaskan pandangan ideologis Iran terhadap Washington tidak mengalami perubahan.
"AS adalah negara kolonialis, AS adalah negara kriminal, dan Republik Islam tetaplah Republik Islam. Tidak ada keraguan mengenai hal itu," tegas Pezeshkian, dilansir dari kantor berita IRNA.
Menjawab kritik internal terkait isi kesepakatan Juni lalu, Pezeshkian menepis tuduhan bahwa pihaknya telah melakukan kompromi yang merugikan negara.
"Anda tidak akan menemukan satu klausul pun dalam nota kesepahaman di mana kami menyerahkan sesuatu," tegasnya.
Di samping dinamika hubungan dengan Washington, Pezeshkian juga mengungkap perkembangan komunikasinya dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Dilansir Reuters, Pezeshkian sempat menyatakan pada 21 Juli lalu bahwa interaksi dengan Mojtaba semakin meningkat, meski belakangan ia mengakui adanya kendala komunikasi.
Media pemerintah melaporkan pertemuan Pezeshkian dan Mojtaba pada akhir Juli membahas isu-isu krusial. Pembahasan mencakup sektor militer, pengamanan sumber daya, pengelolaan devisa, energi, serta hubungan ekonomi dengan mitra asing, sekaligus menepis spekulasi publik terkait kondisi kesehatan Mojtaba.