Abelardo de la Espriella Dilantik Jadi Presiden Baru Kolombia

Share

Abelardo de la Espriella resmi dilantik sebagai Presiden baru Kolombia di Arena USC Universitas Santiago de Cali pada Jumat, 7 Agustus 2026. Sehari usai pelantikan, gelombang serangan bom mengguncang negara tersebut di tengah janji politiknya untuk memulihkan keamanan nasional.

Pelantikan pengacara berusia 48 tahun dari gerakan politik sayap kanan jauh "Pembela Tanah Air" ini mengukir sejarah baru sebagai upacara pertama yang digelar di luar ibu kota Bogota. Acara tersebut dihadiri Raja Spanyol Felipe VI, Presiden Argentina Javier Milei, Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Chile Jose Antonio Kast, serta Presiden FIFA Gianni Infantino.

Situasi keamanan langsung memanas pada Sabtu dini hari ketika kelompok pembangkang gerilyawan FARC meledakkan bahan peledak di dekat gerbang tol Pan-American, wilayah Santander de Quilichao. Insiden di bawah komando Ivan Morodisco tersebut mengakibatkan dua petugas keamanan mengalami luka ringan.

Pada hari yang sama, serangan drone bermuatan bahan peledak yang dilancarkan kelompok pemberontak menghantam kantor polisi di departemen Cesar, wilayah utara Kolombia, yang mengakibatkan satu petugas polisi tewas.

Menanggapi aksi teror yang terjadi tepat setelah pengangkatan dirinya, pemimpin baru Kolombia tersebut langsung memberikan pernyataan tegas melalui media sosial.

"Menyerang infrastruktur negara sama dengan menyerang kemajuan," kata Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella.

Pemerintah menegaskan akan mengejar para pelaku tanpa memberikan ruang bagi tindakan yang merusak stabilitas negara.

"Kepada pihak yang bertanggung jawab, saya sampaikan pesan tegas: tidak akan ada tempat persembunyian, tidak ada keringanan hukuman, dan tidak ada impunitas," ujar Abelardo de la Espriella.

Sebelum gelombang serangan terjadi, pemerintahan baru Kolombia telah mengambil langkah diplomasinya dengan mengumumkan pemulihan hubungan bilateral penuh bersama Israel usai dua tahun terputus. Langkah ini ditandai dengan pembentukan Komisi Ekonomi Binasional Kolombia-Israel serta rencana kunjungan kenegaraan resmi pada Oktober mendatang.

Wakil Presiden Kolombia, Jose Manuel Restrepo, mengonfirmasi bahwa kesepakatan diplomatik tersebut telah dicapai setelah menggelar pertemuan resmi dengan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar.

"Mekanisme ini akan membuka pintu-pintu baru bagi investasi, teknologi, inovasi, dan bakat-bakat terbaik dari Kolombia," kata Wakil Presiden Kolombia, Jose Manuel Restrepo.

Kebijakan diplomasi ini berbalik arah dari era mantan Presiden Gustavo Petro pada Mei 2024 yang memutus hubungan diplomatik dan mendukung gugatan genosida terhadap Israel di Mahkamah Internasional. Di sisi lain, De la Espriella juga menegaskan prioritas utamanya untuk bergabung dengan aliansi "Shield of the Americas" bentukan Presiden AS Donald Trump guna memberantas kejahatan terorganisir.

Sebagai bentuk dukungan, Departemen Luar Negeri AS merencanakan paket bantuan senilai 1 miliar dolar AS untuk pemerintahan De la Espriella, yang juga mengusulkan penempatan militer AS di Kolombia guna membasmi ladang koka dan kartel narkoba.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author