Jawa Barat Alami Deflasi 0,05 Persen Pada Juli 2026
Jawa Barat mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara month-to-month pada Juli 2026 akibat penurunan harga sejumlah komoditas bahan pokok, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Senin (10/8/2026).
Komoditas pangan yang mencatatkan penurunan harga tersebut meliputi bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, serta daging ayam ras. Panen raya di beberapa daerah produsen seperti Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut menjadi pemicu utama turunnya harga komoditas ini.
"Deflasi juga disebabkan oleh penurunan permintaan daging ayam dan telur ayam ras selama periode libur sekolah karena tidak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG)," kata Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati.
Berdasarkan data BPS, bawang merah memberi andil deflasi m-to-m terbesar sebesar 0,09 persen, diikuti cabai merah (0,07 persen), emas perhiasan (0,07 persen), cabai rawit (0,05 persen), dan telur ayam ras (0,04 persen). Sebaliknya, pendorong inflasi m-to-m tertinggi adalah bensin (0,09 persen), ketimun (0,02 persen), sekolah dasar (0,02 persen), bawang putih (0,02 persen), dan mobil (0,01 persen).
Secara year-on-year, Jawa Barat mencetak inflasi sebesar 2,72 persen pada Juli 2026. Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar secara tahunan dengan andil 0,62 persen, disusul bensin (0,31 persen), minyak goreng (0,16 persen), beras (0,13 persen), dan sigaret kretek mesin (0,09 persen).
Selain perkembangan harga, sektor perdagangan luar negeri Jawa Barat juga mencatatkan kinerja positif. Kinerja ekspor Jawa Barat mencapai USD 19,60 miliar atau naik 5,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara nilai impor tercatat sebesar USD 5,81 miliar. Kondisi tersebut menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 13,79 miliar selama periode Januari hingga Juni 2026.
Amerika Serikat menjadi pasar tujuan ekspor nonmigas terbesar Jawa Barat dengan nilai USD 3,26 miliar, diikuti Filipina USD 1,74 miliar, dan Jepang USD 1,40 miliar. Sementara itu, Tiongkok menjadi pemasok barang impor nonmigas terbesar senilai USD 2,30 miliar, disusul Korea sebesar USD 654,64 juta, dan Jepang senilai USD 651,17 juta.