BMKG Pastikan Indonesia Tidak Melintasi Gerhana Matahari Total 2026

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) akan terjadi pada Rabu, 12 Agustus 2026, namun tidak dapat disaksikan langsung dari Indonesia. Kondisi ini terjadi karena jalur lintasan gerhana tidak melewati wilayah tanah air serta bertepatan dengan waktu malam hari di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menyampaikan bahwa masyarakat di Indonesia tetap dapat memantau jalannya peristiwa astronomi tersebut secara daring melalui saluran resmi milik Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA).

"Untuk masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Total dapat mengikutinya melalui kanal resmi NASA," kata Ayu di Jakarta, dikutip dari laman BMKG.

Berdasarkan catatan BMKG, fase Gerhana Sebagian (P1) dimulai pada pukul 22.34 WIB (15.34 UT), disusul fase awal Gerhana Total (U1) pukul 23.57 WIB (16.57 UT). Puncak gerhana berlangsung pada pukul 00.45 WIB tanggal 13 Agustus 2026 (17.45 UT tanggal 12 Agustus 2026), dan seluruh rangkaian fenomena berakhir pukul 02.57 WIB pada tanggal 13 Agustus 2026 (19.57 UT tanggal 12 Agustus 2026).

Sejumlah kawasan yang dapat mengamati GMT secara langsung meliputi wilayah Eropa, Rusia bagian utara, Afrika bagian barat laut, serta Amerika Utara. Jalur umbra gerhana secara spesifik melintasi negara Greenland, Islandia, Spanyol, Rusia bagian utara, Samudra Atlantik, dan sebagian kecil wilayah Portugal.

Sementara itu, fenomena Gerhana Matahari Sebagian akibat sebaran bayangan penumbra dapat diamati di wilayah Amerika Serikat, sebagian besar Kanada, Inggris, Prancis, Italia, Swedia, Norwegia, Finlandia, hingga sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, serta Asia Timur seperti China dan Jepang.

BMKG mengingatkan apabila di masa mendatang wilayah Indonesia kembali dilintasi jalur Gerhana Matahari Total, masyarakat wajib menggunakan kacamata khusus berfilter Matahari untuk melindungi penglihatan dan dilarang keras memandang piringan Matahari secara langsung tanpa alat pelindung.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author