Ancaman El Nino Picu Risiko Inflasi dan Krisis Energi Kolombia

Share

Pemerintah dan lembaga keuangan Kolombia bersiap menghadapi lonjakan inflasi serta krisis energi akibat ancaman fenomena El Nino kuat yang diprediksi melanda negara tersebut pada paruh kedua tahun 2026.

Asosiasi Nasional Institusi Keuangan (Anif) memperingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem ini mengancam pasokan listrik dan komoditas pangan esensial di tengah situasi ekonomi masyarakat yang sudah menantang.

Kementerian Lingkungan Hidup Kolombia bersama Institut Hidrologi, Meteorologi, dan Studi Lingkungan (Ideam) menyatakan peluang konsolidasi El Nino dalam beberapa bulan ke depan mencapai 96 persen, sementara prediksi rentang Mei hingga Juli berada di angka 61 persen.

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan terpukul akibat penurunan drastis curah hujan dan kenaikan suhu, khususnya pada tanaman dengan kebutuhan air tinggi seperti kentang, pisang, buah segar, wortel, padi, jagung, singkong, bawang, dan arracacha.

Kekeringan ini juga berpotensi mengganggu sektor peternakan akibat kelangkaan air dan pakan, yang mengancam stabilitas produksi daging sapi, susu, dan komoditas ikan.

Anif mencatat data historis bahwa lonjakan harga energi pernah mencapai 18,2 persen pada El Nino periode 2009-2010, sedangkan harga pangan melonjak hingga 18,9 persen saat fenomena serupa terjadi pada 2015-2016.

Guna mengantisipasi krisis, Komisi Regulasi Energi dan Gas (Creg) menerbitkan draf resolusi permanen untuk melonggarkan aturan jaringan listrik nasional agar generator non-sentral, kogenerator, dan autogenerator di atas 1 megawatt dapat menyalurkan kelebihan daya secara temporer.

"La comisión considera necesaria la adopción de medidas regulatorias permanentes destinadas a mejorar la … disponibilidad de energía", kata proyek resolusi Creg.

Langkah darurat tersebut diadopsi berdasarkan mekanisme taktis yang sebelumnya pernah diterapkan Kolombia selama menghadapi ancaman El Nino pada periode 2015-2016 dan 2023-2024.

Di sisi lain, asosiasi industri energi Acolgen mendesak pemerintah untuk segera mengaktifkan seluruh pembangkit listrik tenaga termal guna menjaga volume air waduk dari risiko kekeringan ekstrem.

“Tenemos que proteger los niveles de los embalses. Y para proteger los niveles de los embalses tenemos que encender las centrales térmicas,” kata Natalia Gutierrez, Presiden Acolgen.

Gutierrez menambahkan bahwa keterlambatan proyek pembangkit baru dan ketidakpastian pasokan gas untuk pembangkit termal kian memperparah tekanan pada sistem kelistrikan nasional.

Sementara itu, otoritas wilayah Santander melalui Dewan Manajemen Risiko Distrik di Barrancabermeja telah mengaktifkan langkah preventif terhadap potensi kebakaran hutan, krisis air bersih, dan penurunan debit air Sungai Magdalena.

Direktur Manajemen Risiko Barrancabermeja, Didier Gonzalez, mengungkapkan bahwa wilayahnya saat ini sudah mendeteksi anomali atmosfer berupa kenaikan suhu lingkungan hingga mencapai empat derajat celsius.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author