Gusi Berdarah Berisiko Memicu Penyakit Jantung dan Diabetes

Share

Kondisi gusi berdarah sering kali dianggap sebagai gangguan kesehatan gigi yang sepele. Padahal, masalah ini dapat menjadi indikasi awal hadirnya gangguan kesehatan lain yang lebih serius pada tubuh.

Para peneliti mengaitkan infeksi gusi dengan berbagai kondisi kronis seperti stroke, penyakit jantung, hingga diabetes, seperti dilansir dari Detik Health. Peradangan di area mulut terbukti tidak hanya berdampak lokal pada rongga mulut.

"Gusi Anda bukanlah bagian terpisah dari bagian tubuh Anda yang lain. Saat gusi terinfeksi secara kronis, infeksi tersebut memiliki jalan langsung ke aliran darah Anda," kata Pendiri dan Kepala Dokter Gigi Dr Jaydev Dental, Dr Jaydev.

Rongga mulut bertindak sebagai salah satu jalan masuk utama menuju jaringan tubuh. Pada penyakit gusi stadium lanjut, jaringan di sekitar gigi mengalami peradangan dan membentuk luka-luka kecil menyerupai ulkus.

Celah luka tersebut memberi peluang bagi bakteri beserta racunnya untuk menyusup ke sirkulasi darah, terutama saat proses mengunyah atau menyikat gigi. Dr Jaydev menyebutkan bahwa peradangan kronis ini memegang peran krusial terhadap risiko serangan jantung.

"Mulut bukanlah kompartemen tertutup, ia terbuka langsung ke aliran darah. Setiap kali pasien tersebut mengunyah atau menyikat gigi, bakteri dan racun bakteri mendapat jalan bebas masuk ke dalam sirkulasi," katanya.

Sistem kekebalan tubuh memproduksi protein inflamasi seperti protein C-reaktif (CRP) serta interleukin-6 (IL-6) untuk merespons bakteri. Peradangan berulang berpotensi merusak pembuluh darah dan memicu pembentukan plak arteri penyebab stroke iskemik.

Meski tim peneliti kerap mendeteksi bakteri oral di dalam plak arteri, temuan tersebut tidak serta-merta menjadi penyebab tunggal penyakit kardiovaskular.

Keterkaitan Gusi dengan Diabetes

Efek peradangan dari infeksi gusi dapat meningkatkan resistensi tubuh terhadap insulin. Dampaknya, kadar gula darah menjadi semakin sulit untuk dikendalikan.

Di sisi lain, lonjakan gula darah memperlemah daya tahan tubuh dalam melawan infeksi. Hal ini memperlambat pemulihan jaringan sehingga penyakit gusi berkembang kian parah.

"Ini menjadi lingkaran setan. Peradangan memperburuk resistensi insulin dan membuat gula darah lebih sulit dikendalikan, gula darah tinggi pada gilirannya mengganggu kekebalan dan penyembuhan, sehingga penyakit gusi menjadi lebih agresif. Masing-masing kondisi saling memperburuk," kata Dr Jaydev.

Gejala dan Faktor Risiko yang Sering Diabaikan

Penyakit gusi kerap tidak menimbulkan rasa sakit pada fase awal perkembangan. Faktor ini membuat keberadaan infeksi sering tidak disadari hingga berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

"Tanda yang paling sering diabaikan adalah pendarahan saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi," kata Dr Jaydev.

"Gusi yang sehat tidak berdarah. Jika tangan Anda terdapat darah tiap kali membersihkannya, Anda akan segera menemui dokter, tetapi gusi berdarah sering kali diabaikan selama bertahun-tahun," tambahnya.

Indikasi awal penyakit gusi ditandai oleh bau mulut menetap, gusi memerah, bengkak, rasa tidak nyaman di mulut, gusi menyusut, serta makanan yang terus tersangkut di selah gigi yang sama.

Risiko penyakit gusi yang lebih parah mengintai perokok, ibu hamil, penderita kardiovaskular, pasien diabetes tak terkontrol, serta mengonsumsi obat pemicu mulut kering.

Perawatan masalah gusi memang tidak menggantikan pengobatan penyakit kardiovaskular. Namun, meredakan peradangan mulut membantu menekan inflamasi sistemik sekaligus memelihara fungsi pembuluh darah.

Perawatan gusi dapat dilakukan lewat menyikat gigi teratur, benang gigi, kontrol rutin, serta penghentian konsumsi tembakau. Tindakan scaling profesional juga aman dan efektif membersihkan penumpukan karang gigi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author