8 Fakta Terbaru Kebakaran Hutan di Kawasan Gunung Bromo 2026
Published
·
3 Reads
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas hingga memaksa pengelola menutup total akses wisata. Berikut adalah 8 fakta terbaru mengenai kejadian kebakaran di Gunung Bromo.
- Kebakaran Berawal pada 3 Agustus 2026 — Titik api pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8/2026) di kawasan Blok Bantengan, perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Kebakaran di area perbukitan ini masih menyisakan titik api hingga Minggu (9/8/2026).
- Luas Lahan Terbakar Terus Bertambah — Luas area yang terbakar meningkat sangat cepat hingga mencapai sekitar 520 hektare akibat vegetasi kering, angin kencang, dan medan terjal. Sekitar 300 hektare di antaranya terbakar hanya dalam kurun waktu satu malam.
- Diduga Berasal dari Jalur Tikus — Balai Besar TNBTS menduga api dipicu oleh aktivitas manusia dari jalur tradisional atau "jalur tikus" di perbukitan Bantengan menuju Argosari. Lokasi titik awal api berada di atas perbukitan kawasan Blok Bantengan-Jantur yang jarang dilintasi.
- Medan Terjal Hambat Pemadaman — Sebagian besar titik api berada di lereng curam dan tebing yang sulit dijangkau petugas darat. Tiupan angin kencang juga mempercepat penyebaran api ke kawasan lain.
- Helikopter Water Bombing Dikerahkan — Pemerintah mengoperasikan helikopter water bombing untuk menjangkau lokasi terisolasi seperti Tebing P-30 dan Gunung Dingklik. BNPB bersama BMKG juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman.
- Seluruh Kawasan Wisata Bromo Ditutup — Akses wisata Bromo ditutup total mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB melalui lima pintu masuk, yaitu Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro.
- Wisata di Kabupaten Probolinggo Masih Beroperasi — Pemkab Probolinggo memastikan destinasi wisata di luar area kawasan TNBTS tetap aman dan beroperasi secara normal untuk dikunjungi.
- Prioritas Utama adalah Keselamatan dan Pemulihan Ekosistem — Penghentian aktivitas wisata dilakukan untuk mengutamakan keselamatan serta memberi waktu pemulihan ekosistem savana dan vegetasi pegunungan yang rusak akibat kebakaran.
Follow publika.id on Google News
Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author