Penembakan Sekolah di Thailand Menelan Delapan Korban Jiwa

Share

Seorang siswi berusia 12 tahun meninggal dunia saat menjalani perawatan akibat luka tembak, sehingga menambah jumlah korban tewas insiden penembakan di Debsirin Nonthaburi School, Thailand, Jumat (7/8), menjadi delapan orang, sebagaimana dilansir dari Detik Health. Insiden berdarah ini melibatkan pelaku seorang siswa berusia 14 tahun yang melancarkan aksi penembakan di lingkungan sekolah sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri. Sebelum mendatangi sekolah, pelaku juga diduga menembak kakek dan neneknya hingga tewas di kediaman mereka. Korban tewas dalam insiden ini mencakup lima guru dan staf sekolah, yakni Wakil Kepala Sekolah Kittipong Somrat, guru matematika Prapaporn Konsila, guru bahasa Thailand Nantchanatporn Nakplang, guru bimbingan Tiwaporn Wanich, serta sekretaris Saifon Sirikitchakajorn, disamping kakek dan nenek pelaku.

Peristiwa tersebut turut berdampak psikologis pada para siswa yang menyaksikan kejadian. Sejumlah murid bersembunyi di bawah meja dalam keadaan panik, sementara yang lain berlarian menyelamatkan diri saat evakuasi berlangsung.

Siswa berusia 14 tahun yang menjadi saksi mata menguraikan situasi mencekam saat ia terkurung di dalam kelas ketika penembakan terjadi. "Saya mendengar suara tembakan dan sempat merasa tidak akan selamat," kata Khim, siswa Debsirin Nonthaburi School.

Ia menambahkan bahwa dirinya harus bersembunyi dalam kegelapan di dalam ruang kelas untuk meminimalkan risiko. "Saya bersembunyi di ruang kelas dengan lampu dimatikan dan menyadari posisi pelaku hanya berjarak beberapa pintu dari ruang kelas," kata Khim, siswa Debsirin Nonthaburi School.

Di samping dampak fisik, insiden kekerasan ini berpotensi memicu trauma psikologis berat seperti Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) pada anak-anak. Pendampingan kesehatan mental serta dukungan dari keluarga dan sekolah menjadi krusial untuk proses pemulihan para korban selamat. Pihak berwenang memberikan keterangan terkait jumlah amunisi serta dugaan motif di balik aksi penembakan massal tersebut. "Serangan tersebut berpotensi menimbulkan korban lebih banyak karena pelaku masih memiliki lebih dari 30 butir amunisi ketika melakukan aksinya," kata Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Thailand.

Ia memberi penjelasan mengenai dugaan awal yang memicu tindakan nekat remaja tersebut.

"Pelaku diduga mengalami stres yang berkaitan dengan masalah pendidikan," kata Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Thailand. Pernyataan berbeda disampaikan oleh pihak keluarga terkait rekam jejak dan kondisi harian pelaku sebelum insiden terjadi. "Saya tidak mengetahui alasan anak saya melakukan serangan tersebut," kata ayah pelaku.

Ia menegaskan bahwa putranya sebenarnya tidak memiliki kendala dalam bidang akademis di sekolah.

"Anak saya memiliki hasil akademik yang baik dan saya mengakui bahwa putra saya bersalah, tetapi tidak memahami alasan di balik tindakannya," kata ayah pelaku.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author