Festival Kopi Kahuripan Kamojang Dorong Eduwisata dan Pelestarian Lingkungan
Pengembangan potensi kopi lokal dan sektor pariwisata di Kabupaten Bandung terus digalakkan melalui gelaran Festival Kopi Kahuripan Kamojang. Acara perdana ini berlangsung di Foodcourt Kahuripan Kamojang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, pada Minggu (9/8), seperti dilansir dari Detik Travel.
Inisiatif tersebut diusung oleh kelompok KAHURIPAN KAMOJANG dengan dukungan PLN Indonesia Power UBP Kamojang. Agenda ini mempertemukan para petani, pelaku UMKM, masyarakat, komunitas, hingga unsur pemerintah dan akademisi untuk memperkenalkan kopi endemik Kamojang ke pasar yang lebih luas.
Sinergi antara pengelola industri dan pemerintah desa juga diwujudkan melalui penandatanganan komitmen bersama. Kesepakatan ini berfokus pada pelestarian lingkungan serta keberlanjutan budidaya kopi lokal di wilayah Desa Laksana.
Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Kamojang Yunus Tohir menyampaikan bahwa ajang ini tidak sekadar menjadi wadah promosi produk unggulan daerah.
"Festival Kopi Kahuripan Kamojang bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan kopi lokal, tetapi juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan Kahuripan Kamojang. Ketika kopi memiliki nilai ekonomi yang lebih baik, masyarakat akan semakin memiliki alasan dan insentif untuk menjaga lingkungan, mempertahankan budaya, serta mengembangkan potensi wilayahnya secara berkelanjutan," kata Yunus Tohir.
Penyelenggaraan festival ini diproyeksikan menjadi agenda tahunan untuk memperkuat identitas kawasan sekaligus membuka jaringan pemasaran bagi para petani. Warga setempat dan pengunjung tampak memadati area pameran untuk mencicipi ragam sajian kopi, termasuk Kopi Lisung yang memertahankan teknik pengolahan tradisional.
Salah satu sajian utama dalam acara ini adalah Coffee Tour bertajuk "Dari Panen sampai ke Cangkir". Melalui program tersebut, pengunjung diajak memahami seluruh tahapan produksi kopi mulai dari pemetikan buah, pemrosesan pascapanen, hingga penyajian.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung Wawan A. Ridwan turut hadir dan mengapresiasi kolaborasi lintas sektor ini. Pihaknya menilai kegiatan tersebut dapat mendongkrak status Desa Laksana yang kini tergolong sebagai desa wisata berkembang.
"Desa Laksana termasuk ke dalam 27 desa wisata yang sudah mencapai level berkembang. Jadi artinya dengan adanya kegiatan festival kopi ini pengembangan desa wisata bisa dikolaborasikan dengan semua pihak. Kita berharap dengan adanya pengembangan desa wisata ini akan meningkatkan geliat ekonomi di masyarakat sekitar," ujar Wawan.
Konsep eduwisata yang ditawarkan mengintegrasikan area perkebunan, kearifan lokal, upaya konservasi, serta kegiatan pembelajaran dalam satu paket perjalanan. Wisatawan yang berminat mempelajari proses pembuatan kopi dapat mengikuti tur khusus yang menjadi produk wisata unggulan Desa Laksana.
"Ada beberapa paket wisata yang kita kembangkan. Kalau terkait kopi, tak hanya bubuk saja yang kita hasilkan. Juga ada beberapa produk-produk yang dihasilkan dari kopi artinya kita bisa jual untuk menjadi paket wisata seperti kue, pakan ikan dan lainnya.," tutur Wawan.