Iran Ajukan Syarat Pembukaan Selat Hormuz Saat Militer AS Cari Jalan Keluar

Share

Pemerintah Iran menetapkan sejumlah syarat berat untuk membuka kembali Selat Hormuz yang terblokade sejak Februari 2026, di saat para petinggi militer Amerika Serikat secara internal mulai menyusun skenario untuk mengakhiri konflik bersenjata tersebut.

Eskalasi di jalur pelayaran vital dunia tersebut kian rumit setelah Iran menargetkan kapal-kapal komersial, sementara pejabat militer puncak AS menilai opsi serangan udara tidak lagi efektif untuk mencapai tujuan politik Washington.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa pertempuran yang telah berlangsung selama lima bulan itu akan selesai dalam waktu dekat karena tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran.

"Saya rasa perang ini akan segera berakhir. Menurut saya, mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi," kata Trump, merujuk pada Iran, saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, seperti dilansir Reuters.

Trump menambahkan bahwa pemerintahannya telah menggelar dialog dengan pihak Iran guna membahas penyelesaian konflik serta rute pelayaran strategis yang saat ini dikawal ketat oleh Angkatan Laut AS.

"Saat ini kondisinya bisa dibilang terbuka. Anda tahu, kita memiliki hal yang disebut blokade, yang dipimpin Angkatan Laut AS, dan kita mengendalikannya," ucapnya.

Namun, pandangan berbeda muncul dari internal militer AS. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dilaporkan secara intensif berdiskusi dengan para pejabat tinggi seperti Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance untuk merancang strategi keluar dari perang.

"Caine sedang mencari jalan keluar," kata salah satu sumber dengan lugas.

Penasihat militer AS tersebut menilai bahwa pengerahan kekuatan udara tanpa pasukan darat tidak akan mampu memaksa Iran bertekuk lutut, serta berisiko memberikan dampak buruk bagi posisi militer AS sendiri.

"Saya pikir itu hanyalah caranya untuk melindungi militer," kata salah satu sumber kepada CNN, merujuk pada diskusi Caine dengan para pejabat keamanan nasional tingkat atas lainnya tentang perang Iran.

Menanggapi kabar koordinasi internal tersebut, perwakilan Gedung Putih menegaskan bahwa Jenderal Caine tetap menjalankan tugasnya dalam memberikan pertimbangan strategis kepada pimpinan tertinggi.

"Jenderal Caine adalah aset yang luar biasa bagi tim keamanan nasional Presiden Trump, dan keberhasilan luar biasa dari Operasi Epic Fury, Midnight Hammer, dan Absolute Resolve telah terbukti," kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CNN.

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa seluruh keputusan akhir terkait langkah militer berada penuh di tangan presiden.

"Jenderal selalu memberikan informasi yang akurat dan tidak bias serta sejumlah pilihan kepada Panglima Tertinggi, yang pada akhirnya membuat keputusan berdasarkan apa yang menurutnya terbaik untuk keamanan nasional AS," tambah pejabat itu.

Di pihak lain, Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz membutuhkan kompensasi atas kerugian perang, penghentian agresi di kawasan, hingga pencabutan sanksi serta pembebasan aset yang dibekukan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa pembicaraan pengelolaan navigasi dengan Oman berjalan maju, namun pemulihan jalur laut tetap bergantung pada pemenuhan tuntutan Teheran.

Garda Revolusi Iran juga menegaskan bahwa negosiasi teknis dengan Oman tidak serta-merta membuka blokade tanpa adanya kesepakatan pemenuhan syarat oleh pihak lawan.

Sementara itu, gangguan keamanan di Selat Hormuz terus berlanjut. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab mengecam serangan rudal yang memicu kebakaran pada kapal tanker milik ADNOC, sementara UKMTO mengonfirmasi insiden proyektil yang menghantam kapal komersial di lepas pantai Oman.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author