Paus Leo XIV Serukan AI Dilucuti Demi Lindungi Manusia

Share

Paus Leo XIV menyerukan agar teknologi kecerdasan buatan atau AI segera "dilucuti" guna melindungi peradaban manusia dari ancaman bahayanya pada Senin, 25 Mei 2026. Penegasan moral pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut dilansir dari Bloombergtechnoz.

Langkah ini menempatkan Vatikan di tengah perdebatan global mengenai intervensi pemerintah terhadap regulasi teknologi yang sedang mengubah lanskap dunia. Seruan tersebut disampaikan melalui sebuah pidato penting di hadapan Gereja Katolik bersamaan dengan peluncuran ensiklik terbarunya.

Pemimpin berumur 70 tahun itu menginginkan AI yang lebih ramah terhadap manusia serta terbebas dari monopoli komersial maupun geopolitik.

"Melucuti berarti mendiskreditkan anggapan bahwa kekuatan teknis secara otomatis memberikan hak untuk memerintah," kata Paus Leo XIV dalam ensiklik barunya kepada umat beriman.

Melalui dokumen keagamaan tersebut, sang paus menekankan pentingnya menjaga kendali penuh atas perkembangan instrumen komputasi modern agar tidak menggeser eksistensi kemanusiaan.

"Melucuti bukan berarti menolak teknologi, tetapi mencegahnya mendominasi umat manusia," kata Paus Leo XIV.

Sikap keras paus Amerika pertama ini berpotensi memicu ketegangan dengan kebijakan deregulasi teknologi yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump demi menyaingi China. Dokumen panduan moral berjudul Magnifica humanitas tersebut menandai kebijakan paling signifikan sejak ia menjabat satu tahun lalu.

Sebagai mantan ahli matematika, ia memberikan perhatian khusus terhadap risiko penggunaan algoritma canggih dalam sektor militer dan sistem persenjataan.

"AI tidak menghilangkan sifat tidak manusiawi yang melekat pada konflik, bahkan justru dapat mempercepat konflik dan membuatnya semakin impersonal," kata Paus Leo XIV.

Kekhawatiran itu diperparah oleh peluncuran alat AI bernama Mythos oleh Anthropic yang mampu mendeteksi kelemahan sistem teknologi informasi global.

Merespons dinamika tersebut, Vatikan secara khusus mengundang salah satu pendiri Anthropic yang berhaluan berseberangan dengan pemerintahan Trump terkait pemanfaatan teknologi militer.

"Kita membutuhkan lebih banyak pihak di dunia — komunitas agama, masyarakat civil, akademisi, pemerintah — untuk melakukan seperti yang dilakukan Yang Mulia Paus: menganggap ini serius, mencermatinya dengan saksama, dan mengarahkan perkembangan ke arah yang lebih baik," kata Christopher Olah, seorang ahli machine learning.

Olah mengharapkan kehadiran suara-suara moral independen yang mampu meluruskan arah perkembangan laboratorium kecerdasan buatan ketika mengalami kegagalan fungsi.

"Kita membutuhkan para pengkritik yang memahami masalah untuk memberi tahu laboratorium AI ketika kami gagal. Kita membutuhkan suara-suara moral yang tidak bisa dibelokkan oleh insentif," kata Christopher Olah.

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa pandangan pemimpin denominasi Kristen terbesar di dunia tersebut pasti akan memberikan pengaruh global yang signifikan.

Di sisi lain, analisis internal gereja mencatat adanya kemiripan visi sosiopolitik antara Paus Leo XIV dan pendahulunya, Paus Leo XIII, sewaktu menghadapi gejolak industrialisasi abad ke-19.

"Sang paus ingin memastikan bahwa apa yang terjadi dengan AI tidak hanya didasarkan pada ekonomi, tidak hanya pada seberapa kaya sekelompok miliarder bisa menjadi, dan bahwa ada pagar pengaman dalam penggunaannya," kata Pastor Thomas Reese, seorang analis senior dan cendekiawan Katolik.

Meskipun memiliki pendekatan komunikasi yang lebih tenang dibanding Paus Francis, pemimpin saat ini tetap konsisten menolak reduksi nilai kemanusiaan oleh algoritma bertenaga besar.

"Hari ini, di antara berbagai hal yang diperuntukkan bagi semua orang secara universal, kita juga harus memasukkan bentuk-bentuk baru kepemilikan, seperti paten, algoritma, platform digital, infrastruktur teknologi, dan data," tulis Paus Leo XIV.

Bagi otoritas tertinggi Vatikan, ancaman terbesar muncul saat efisiensi sistem mulai mengesampingkan martabat mendasar para pekerja.

Teknologi tersebut dinilai berbahaya ketika "mulai menentukan apa yang penting dan apa yang dapat disingkirkan," sehingga mereduksi "manusia menjadi sekadar roda gigi dalam sistem yang didorong menuju efisiensi yang semakin besar."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author