Perbedaan Istilah Bahasa Indonesia dan Malaysia Sering Pemicu Tawa Wisatawan
Perbedaan kosakata antara bahasa Indonesia dan Malaysia kerap memicu gelak tawa bagi para wisatawan asal Indonesia yang sedang berkunjung ke negeri jiran tersebut, seperti dilansir dari Detik Travel.
Meskipun kedua negara ini masih berada dalam satu rumpun bangsa, sejumlah istilah dalam bahasa Malaysia terdengar unik dan tidak lazim bagi penutur bahasa Indonesia.
Salah satu contoh penamaan yang menarik perhatian adalah petunjuk di fasilitas umum, seperti tulisan Orang Kurang Upaya pada area toilet khusus.
Istilah Orang Kurang Upaya di Malaysia merujuk pada penyandang disabilitas. Sebaliknya, masyarakat Indonesia mengartikan frasa tersebut sebagai orang yang kurang dalam berusaha.
Perbedaan nama instansi juga terlihat pada Dinas Pemadam Kebakaran yang di sana dinamai Balai Bomba dan Penyelamat. Selain itu, tempat penukaran uang asing atau money changer dikenal dengan istilah Pengurup Wang.
Istilah penunjuk arah atau keselamatan lain yang sering dijumpai adalah Cermin Kecemasan. Frasa ini digunakan untuk menyebut pintu darurat atau emergency exit dalam bahasa Malaysia.
Bagi penutur bahasa Indonesia, frasa Cermin Kecemasan justru dipersepsikan secara harfiah sebagai cermin yang menimbulkan rasa cemas.
Di kawasan wisata populer seperti Bukit Bintang, wisatawan juga dapat menemukan papan petunjuk bertuliskan Pusat Persolekan. Istilah ini mengacu pada salon kecantikan dalam bahasa Indonesia.
Sementara itu, angkutan bus pariwisata yang kerap lalu lalang di jalanan Kota Kuala Lumpur diberi label Bas Persiaran pada badan kendaraan tersebut.